Bayi-bayi ditempatkan menghadap layar hitam di mana mereka mendengarkan suara netral, bahagia atau marah selama 20 detik. Mereka kemudian duduk di depan wajah-wajah yang mengekspresikan salah satu dari dua emosi ini selama 10 detik.
Teknologi eye-tracking digunakan untuk mengukur garis penglihatan bayi. Mereka berasumsi, bayi yang melihat satu wajah lebih lama dapat membedakan emosi bahagia dan marah. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE.
Terkait itu, riset dari University of Georgia’s Department of Child and Family Development (CFD), dikutip dari Parents, emosi seperti empati, kebahagiaan, harapan, dan kesedihan dibentuk oleh bagaimana bayi dipelihara. Hal ini juga berkaitan erat dengan kecerdasan emosional (EQ). Jika EQ-nya berkembang dengan baik, seseorang cenderung membentuk standar moral yang baik untuk dirinya sendiri. Meskipun kecerdasan emosi terus berkembang melalui masa remaja, tapi pengalaman awal bayi bisa menjadi dasar untuk seumur hidupnya.
Untuk itu, sebagai orang tua kita perlu sediakan lingkungan yang aman dan konsisten untuk bayi. Sering tersenyum, akui dan ungkapkan emosi yang dirasakan bayi, tunjukkan empati ketika bayi kesal, Bun.
Editor : ardi











