Ditangkapnya MWJ dan FM, dua mahasiswa PTN di Salatiga yang nekat berbuat mesum di Masjid At Taqwa, Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (13/4) siang, membuat pemilik sekaligus pengasuh Ponpes Mansya’ul Huda, Sraten, KH Matori Mansur merasa kecolongan. MWJ diketahui merupakan santri di ponpes asuhan Matori tersebut.
“Saya lalai dan minta maaf dengan kejadian yang benar-benar menampar saya ini. Apalagi santri ini juga kuliah di IAIN Salatiga,” kata KH Matori Mansur, ketika ditemui di ponpesnya, Jumat (13/4/2018) kemarin.
Menurutnya, para santrinya itu sudah tahu dan paham akan aturan di Ponpes Mansya’ul Huda ini. Ada dua yang harus dipatuhi para santri, jaga diri dengan baik dan jaga nama baik pesantren.
Apabila para santri nekat melanggar aturan, maka tidak segan-segan akan diberikan sanksi tegas yaitu dikeluarkan dari pesantren.
“Selama ini, MWJ itu anaknya baik, santun, sopan bahkan jika salat selalu berada di barisan paling depan. Kadang juga mengimami santri lainnya. Dengan adanya kasus mesum di dalam masjid itu, terus terang saya tidak menduga. Apakah MWJ sudah gelap mata, sehingga tidak dapat menjaga nafsunya,” tuturnya.
Menurut Matori, MWJ adalah remaja yang kalem, khusuk dalam ibadahnya, suaranya juga bagus dan disiplin dalam mengaji. Dia sudah ‘mondok’ selama 2,5 tahun lamanya dan juga sambil menempuh kuliah di IAIN Salatiga.
“Dengan kasus yang dilakukannya itu, mulai Jumat ini, MWJ saya keluarkan dari Ponpes Mansya’ul Huda ini. Sekali lagi saya kecolongan. Ibaratnya, MWJ itu anaknya ‘Nyolong Pethek’, tidak dapat diduga akan perbuatannya,” tandasnya.(net)
Editor : mahardika













