“Mereka lalu mengeluarkan samurai berapa pun yang bisa mereka serang dan bunuh, bisa mendapat pahala. Namun jika gagal akan tetap masuk surga. Itu yang dipikiran mereka,” katanya.
Tito juga mengakui, saat ini pihaknya sangat menghindari konfrontasi terbuka guna menangkap teroris dalam keadaan hidup.
“Jadi yang kita lakukan tekniknya, jangan mencari konfrontasi terbuka, namun melakukan penangkapan saat mereka lengah. Kalau seandainya konfrontasi terbuka, itu jaga jarak. Saya berpesan jangan gunakan langkah-langkah penyerbuan, karena mereka juga siap mati,” katanya.
Dirinya juga menceritakan percakapan saat menangkap teroris silam. “Saya pernah menangkap kasus bom Kedutaan Besar Australia di Bogor. Begitu kami tangkap hidup-hidup, mereka menangis di kendaraan.
Kenapa kamu menangis?
Kenapa kita tidak kontak?
Kenapa saya nggak bisa membunuh bapak?
Kenapa bapak nggak bunuh saya?
Saya kehilangan golden momentum untuk masuk surga. Saya sampaikan, ya sudah kamu bunuh diri saja setelah ini.
Saya neraka pak, kalau sudah begitu,” cerita Tito.
Najwa lantas memastikan kesimpulan dari cerita Tito. “Jadi bunuh diri buat mereka adalah neraka, namun jika dalam kontak itu surga? Astaghfirullahalazim”, ujar Najwa menutup acaranya.(net)
Editor : mahardika













