Yusril menuturkan, pemimpin yang ucapannya plintat-plintut itu akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya. “Berpedoman kepada pepatah Jawa sabdo pandito ratu itu, maka sejak awal saya tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobi sana-sini,untuk untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 hadapi petahana,” ungkap Yusril.
Kemudian, Yusril mengungkapkan pengalaman adalah guru paling bijak. “Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Fuad Bawazier, Pak Amien meyakinkan kami semua untuk mencalonkan Gus Dur. Saya dan MS Kaban menolak. Kami tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi,” ungkap Yusril.
Oleh karena itu, lanjut Yusril, tahun 2018 ini pun dirinya tidak ingin ikut-ikutan dengan manuver Amien. “Bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman. Saya kini Ketum Partai. Saya ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara-cara yang benar pula,” tuturnya.
Akhirnya, lanjut Yusril, pengalaman tetap lah menjadi guru yang bijak baginya. “Mudah-mudahan bagi orang lain juga,” katanya.(net)
Editor : mahardika













