Lalu, bila diamati lebih khusus, di dalam lembaran Al-Quran tulisan tangan ini tidak terdapat penanda keterangan surat dan ayat.
“Tapi kalau orang yang sudah hafal pasti tahu, ini Al Baqarah ini Al Imran ini An Nisa itu sudah tahu,” terang Najim.
Dengan adanya Al-Qur’an berukuran raksasa ini menjadi primadona tersendiri bagi masyarakat Solo. Tak hanya itu, dari keterangan Najim, beberapa masyarakat ada yang rela datang dari tempat yang cukup jauh demi melihat kitab suci ini.
“Ya alhamdulillah respons masyarakat kadang-kadang orang yang jauh-jauh itu datang. Bicara sama saya sama takmir (pengurus masjid) lainnya. Alhamdulillah respons masyarakat itu positif senang,” jelas Najim.
Meski begitu, antusiasme masyarakat yang begitu besar terkait Al-Qur’an ini nyatanya juga membawa kekhawatiran. Beberapa tangan jahil sempat datang mengusik kitab suci ini. Pihak takmir masjid pun sepakat membentengi Al-Qur’an bersejarah ini dengan kaca.
“Karena tangan anak-anak itu lho. Kita menjaga tangan anak-anak itu. Ini kan sudah lapuk. Membuka saja kita sudah pelan-pelan sekali. Sekitar 3 tahunan lah (dikaca),” pungkas Najim. (kumparan)
Editor : Maskur













