Resiko besar saat mencari Yarsagumba, juga diakui Sita Gurung, salah seorang warga Himalaya. Menurutanya, cuaca dingin dan salju yang tiba-tiba longsor, menjadi ancaman terbesar bagi mereka saat mencari ‘tumbuhan ajaib’ itu.
“Salju longsor bisa datang mendadak. Kalau besar, kami bisa terhempas ke jurang,” ujarnya.
Di tingkatan warga, satu buah yarsagumba dijual seharga US$3,50 – 4,50 atau setara Rp50 ribu – Rp65 ribu. Namun, saat sudah diekspor dan sampai ke pasar internasional harganya melonjak berkali-kali lipat. Satu gramnya, dibanderol dengan harga US$100 (Rp1,4 juta).
Namun saat ini, stok Yarsagumba sudah menurun drastis. Hal itu dipicu pemanasan global ditambah panen berlebihan yang dilakukan warga.
Padahal, Yarsagumba merupakan sumber pemasukan terbesar bagi warga setempat. “Biasanya sehari kita bisa menemukan 100 Yarsagumba, namun sekarang paling banyak hanya 20 buah. Bahkan, ada kalanya kami tidak menemukan yarsagumba sama sekali,” keluh Sita.
Padahal, dengan mencari jamur itu, ia bisa membeli baju baru hingga mandiri secara finansial.(net)
Editor : mahardika











