HeadlineSumsel

KOLEGA Sumsel Gagas Sarasehan Lanskap Nusantara Pertama

×

KOLEGA Sumsel Gagas Sarasehan Lanskap Nusantara Pertama

Share this article

KORDANEWS – Sebagai bentuk untuk menyambut hari bersejarah dalam pengelolaan lanskap di Indonesia yang akan jatuh pada tanggal 26 Juli besok. KOLEGA Sumsel yang didukung oleh Kelola Sendang-ZSL dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), menggagas sebuah acara Sarasehan Lanskap Nusantara yang pertama kali di Indonesia.

Selain itu kegiatan Sarasehan Lanskap Nusantara yang menghadirkan keynote speech dari Ir. Wiratno, MSc (Dirjen KSDAE, KLHK) dan Binny Buchori (Kantor Staf Kepresidenan), yang juga dimoderatori oleh M. Farhan, salah satu presenter yang sekarang lebih di kenal di dunia politik di Indonesia, serta diskusi pertukaran pengalaman antara pegiat lanskap dan tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Pendekatan Lanskap Berkelanjutan untuk mendukung pembangunan hijau adalah terobosan penting bagi Sumatera Selatan. Ini yang ingin kita kembangkan lebih luas, dari Sumsel untuk Indonesia”, Kata Koordinator KOLEGA Sumsel, Najib Asmani.

Ia pun menjelaskan pendekatan lanskap adalah pendekatan yang bersifat holistik dan terpadu untuk mempersatukan. Pendekatan ini juga mensyaratkan kemitraan pemerintah, swasta dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara aspek produksi, konservasi dan penguatan penghidupan masyarakat.

“Salah satu aspek penting dalam pendekatan lanskap adalah bagaimana bisa sinergi dengan rencana pembangunan dan program-program pemerintah baik pusat maupun daerah. Inovasi pendekatan lanskap diharapkan memperkaya implementasi pembangunan, dengan menghasilkan bentuk-bentuk percontohan yang bisa dipetik untuk pengembangan kebijakan pemerintah pada masa yang akan datang, “jelasnya.

Seperti ada berbagai inisiatif pengelolaan lanskap dalam bentuk proyek-proyek atau gerakan masyarakat di berbagai daerah, namun belum pernah ada yang mempertemukan.

“Sarasehan Lanskap Nusantara ini merupakan inisiatif Sumsel untuk mempertemukan berbagai inisiatif pendekatan lanskap di Indonesia. Kedepan semoga bisa terbangun Forum Lanskap Nusantara”, ungkapnya.

Disamping itu, Deputi Proyek KELOLA Sendang, David Ardhian mengungkapkan, KELOLA Sendang juga mendukung perencanaan dan sinergi kegiatan di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin melalui Pokja Pembangunan Hijau.

Pengembangan tata kelola lanskap pada tingkat Provinsi dalam bentuk Project Supervisory Unit (PSU) merupakan hal penting, termasuk menyusun Rencana Induk Pengelolaan Lanskap dalam jangka panjang.

“Pendekatan lanskap adalah pendekatan adaptif yang dinamis, bagaimana merajut kemitraan para pihak untuk bersama-sama mengatasi masalah pengelolaan SDA yang kompleks dalam sebuah bentang alam. Terpenting, bagaimana petikan pembelajaran untuk inspirasi kebijakan pada masa yang akan datang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hal menarik dalam kegiatan ini adalah inisiatif kabupaten lestari yang digagas oleh LTKL, yang merupakan inovasi dalam pengelolaan lanskap berbasis yurisdiksi dimana mengumpulkan kabupaten-kabupaten yang berkomitmen untuk menerapkan pembangunan hijau di daerahnya.

“salah satunya adalah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Pertukaran inovasi hijau antar kabupaten merupakan sebuah terobosan dalam mewujudkan pembangunan hijau di Indonesia, “ujarnya.

Sementara itu, Direktur Proyek KELOLA Sendang, Prof. Damayanti Buchori beranggapan pendekatan lanskap ini juga sebagai revitalisasi kebudayaan yang ramah terhadap lingkungan. Dalam catatan sejarah di Sumsel, prinsip-prinsip pendekatan lanskap sesugguhnya termaktub dalam prasati Talang Tuwo.

“Sarasehan Lanskap Nusantara ini juga mengajak peserta untuk melakukan perjalanan kebudayaan melalui acara kunjungan lapangan ke situs-situs kebudayaan,” katanya.

Ia pun menambahkan saat penampilan Teater Potlot dalam kegiatan ini akan menjadi salah satu proses refleksi budaya dalam rangkaian Festival Lanskap Nusantara ini. Isu lingkungan hidup adalah mempersatukan bukan memecah-belah, siapapun memerlukan udara bersih, lingkungan yang sehat dan alam yang lestari.

“Siapapun pelakunya, siapapun pemimpinnya, siapapun kelompoknya, pasti akan menghadapi masalah lingkungan hidup yang sama, dan hanya bisa diatasi dengan cara bekerjasama dalam kemitraan. Pengelolaan lanskap perlu perspektif jangka panjang, jauh melampaui kepentingan-kepentingan jangka pendek. Ini cara pandang untuk membangun Indonesia masa depan,” ujarnya. (Ab)

Editor: Janu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *