KORDANEWS – Asian Games di Sumatera Selatan adalah mimpi yang menjadi nyata, bukan hadiah tapi buah perjuangan,” Kata Gubernur Alex Noerdin saat melepas pawai obor torch relay Asian Games 2018 di kantor Bupati OKI, beberapa waktu lalu.
Hal senada juga dikatakan Bupati OKI Iskandar, SE. Kata dia, hanya api Asian Games yang boleh menyala di OKI. “Jaga nama baik bangsa dan negara,” ungkap Iskandar dalam kesempatan yang sama.
Sebagai tuan rumah pesta olahraga terbesar di Asia, Sumsel dituntut mampu mengatasi bencana kabut asap demi nama baik bangsa dan negara.
Deteksi dini dan respons cepat dilakukan di lapangan. Awal Agustus 2018 sudah 39 titik api berhasil di padamkan. Seluruh pihak dilibatkan, dari masyarakat, manggala agni, perusahaan, Badan Restorasi Gambut (BRG), akademisi, NGO internasional, nasional hingga lokal, serta Kepolisian dan TNI.
Sore itu di Pulau Jarak Desa Perigi Talang Nangka Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten OKI, regu pemadam api berjibaku memadam api, sejumlah lelaki dengan postur tegap bersepatu dinas lapangan berbaju orange, berjibaku memadamkan api.
Diantara para lelaki tangguh itu ada dua perempuan berseragam sama melakukan tugas yang sama. Mereka turut memadamkan api di bawah teriknya mentari dan panasnya api yang membakar gambut di wilayah tersebut.
Tetapi pikiran yang terlintas dibenak itu seakan sirna oleh aksi empat orang srikandi relawan peduli api yang tergabung dalam masyarakat peduli api (MPA) Desa Perigi Talang Nangka Kecamatan Pangkalan lampam Kabupaten OKI.
Mereka Ramitha (19), Rika (28), Marlin (24) dan Sinta (30). Kebanyakan perempuan sebaya mereka mungkin lebih memilih melakukan perawatan di salon kecantikan, atau duduk di cafe sambil maenin gadget.
Shinta (30) yang lebih senior dari ketiga rekannya mengungkapkan sudah bergabung di MPA sejak tahun 2015.
Sudah beberapa kali dia mengikuti pelatihan pemadaman baik yang diselenggarakan oleh BPBD OKI maupun dari NGO. Shinta merasa malu jika kebakaran lahan terjadi di desanya, sedangkan asapnya dihisap oleh warga lain.
“Rasanya bersalah jika di dusun kita terbakar, makanya kami selalu siap dipanggil jika ada kebakaran lahan,” kata Shinta.
Semula, Shinta dan kawan-kawan perempuannya diberi tugas menangani logistik para petugas lapangan yang notabene laki-laki. Namun tak butuh waktu lama bagi Shinta, untuk ikut terjun berjibaku menghadang api.
Ia melakoni pekerjaan berat keluar masuk hutan, memanggul alat berat, menjinakkan api. Shinta mengakui keterbatasan fisiknya dibanding rekan-rekan lelakinya. Namun itu tak jadi soal, sebab mereka berbagi beban.
“Kalau memanggul alat, kami yang perempuan membawa perlengkapan macam selang air. Sementara alat-alat yang lebih berat dibawa lelaki,” ujar Shinta.
Lain lagi Rika (28), perempuan yang sehari-hari menjadi pengajar di PAUD Bunda Desa Talang Nangka. Meski dilahirkan sebagai perempuan, tidak menghalangi niatnya untuk bergabung bersama petugas pemadam api yang didominasi laki-laki.
Kendala di lapangan, menurut dia, bukan jadi masalah. “Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa, kami tidak pernah takut yang penting di desa kami jangan ada api,” tungkasnya.
Rika menceritakan, serunya bertugas di lapangan bersama tim pemadam api. Dia merasa menemukan keluarga baru serta terikat kebersamaan dengan tim pemadam karhutbunlah yang terdiri dari unsur TNI/Polri, BPBD dan RPK.













