SosokSumsel

Empat Srikandi Cantik yang Menjadi ‘Pengasuh’ Api dari OKI

×

Empat Srikandi Cantik yang Menjadi ‘Pengasuh’ Api dari OKI

Share this article

“Kadang mereka juga kasian sama kami, kami dihibur disuruh kerjakan yang ringan-ringan saja tapi kami juga ingin melakukan apa yang dilakukan petugas laki-laki,” tuturnya.

Besar-kecil bukan soal, menurut Rika, juga perempuan-lelaki. Karena esensi yang sesungguhnya adalah kerja sama mereka dalam memadamkan kobar api.

Kepada masyarakat, Rika juga berpesan untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membakar hutan dan lahan. Bahkan, menurut dia, kesadaran dini itu sudah dia tanamkan pada anak-anak didiknya di PAUD.

Khusus kepada para remaja perempuan, Rika juga mengajak untuk menjadi wanita yang tangguh tidak hanya sibuk komentar di medsos tapi memberi kerja nyata untuk masyarakat.

“Cantik itu tidak hanya yang terlihat diluar, masih banyak orang yang melihat kecantikan itu dari dalam, yang penting apa kita bisa berbuat untuk orang banyak,” pesannya.

Lain cerita Mitha, gadis 19 tahun anggota paling junior srikandi pemburu api. Mitha mengaku pernah menerima cemo’ohan dari rekan sebaya dan tetangganya karena bergabung direlawan peduli api.

“Saya bilang wanita tidak harus melulu di rumah, wanita juga bisa melakukan hal seperti laki-laki yang penting bermanfaat untuk orang lain,” tukasnya.

Sebuah ejekan dia jadikan motivasi untuk tidak takut kepada api. Mitha mengaku sudah mendapat restu dari orang tua untuk bergabung di MPA. Bahkan dia satu regu pemadam dengan bapaknya.

“Ini juga bantu orang tua jaga kebun sendiri biar tidak terbakar, kalau kita tidak bantu siapa lagi,” ungkapnya.

Mitha tidak pernah khawatir jika kulitnya gosong terbakar terik matahari atau tangannya melepuh terkena api.

“Perempuan jangan hanya dipandang karena fisiknya, perempuan juga punya kekuatan dalam batinnya,” ungkap remaja berusia 19 tahun ini.

Meski semua pihak telah dilibatkan titik api tetap muncul menjelang Asian Games 2018. Kerja keras tim di lapangan yang memburu titik api tak sebanding dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan.

Ditambah lagi ego manusia yang dilandasi motif ekonomi ingin meraup keuntungan menyebabkan kepedulian terhadap alam menjadi hilang.

Kiprah empat perempuan pengasuh api setidaknya menjadi inspirasi. Dibalik kelemahlembutan mereka terdapat jiwa yang kuat untuk menjaga alam.

Editor : mahardika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *