Usianya baru 18 tahun tapi sudah menjadi PSK sejak 2 tahun yang lalu. Kala itu dia ditinggalkan oleh suaminya, lalu memutuskan menjadi PSK. Ana tak tahu persis anak siapa yang saat ini sedang ia kandung.
“Enggak tahu juga kan ada yang sama tamu juga ada yang bocor kan kadang gak tahu. Kalau dari felling sih dari pacar ya soalnya kan sebelum hamil enggak pakai kondom sama pacar doang,” ujar Ana menceritakan dugaan anak yang ia kandung.
Selama hamil, Ana tak begitu mempedulikan kesehatan kandungannya. Ia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai PSK. Terlebih ada sejumlah pria hidung belang yang sengaja mencari wanita hamil atau menyusui untuk memuaskan hasrat mereka.
“(Alasan pelanggan) pengen nyobain air ASI yang hamil, karena kalau dipaksain kan keluar juga ya jadi pengen air ASI-nya doang tapi enggak dipakai,” ujar Ana.
Meski dengan kondisi demikian, tak ada perbedaan tarif antara dirinya yang sedang hamil dengan temannya yang tidak hamil. Ana menerima imbalan jasa Rp 200-300 ribu dari para pelanggan dalam sekali kencan. Namun biasanya PSK hamil mendapat tip lebih dari pelanggan.
Bagi Ana, hamil dan memiliki anak tanpa ayah adalah risiko pekerjaan yang harus diterima PSK. Dia juga mengaku siap menerima risiko tersebut.
Ana berencana melahirkan di mes lokalisasi. Anaknya akan ia serahkan ke mama germo untuk dirawat.
“Rencananya sih sama mama germonya. Diasuh di situ dan dibiayain sama germonya gitu,” ujar Ana.
Biasanya bayi-bayi yang diasuh germo tidak diberi ASI meski ibunya tinggal di kawasan yang sama. Mereka hanya sesekali menemui anaknya.
“Ya biasanya sih pakai susu itu aja, kebanyakan sih sama susu formula,” tutur wanita asal Bogor itu.(net)
Editor : mahardika













