“Karena itu butuh kesabaran ekstra. Tapi, kalau kondisinya tidak tantrum,
semua anak autis enak kok udah dan mengerti apa yang boleh dilakukan apa
yang tidak boleh,” ujar perempuan berkacamata ini.
Meskipun berada dalam satu kelas dengan anak normal. Anak penyandang autis ini tidak pernah mempengaruhi anak normal.
Terbukti, anak normal yang bersekolah dan satu kelas dengan anak autis masih dapat berprestasi seperti masuk SMP dan SMA unggulan di Sumsel.
Bahkan, tahun lalu salah satu murid normal yakni Nuril Humairah kelas VI
berhasil menjuarai olimpiade sains ditingkat kecamatan dan kota.
Saat ini dirinya telah menginjak 10 tahun mengajar di yayasan bina autis tersebut, dan dirinya mengaku sangat senang saat berhasil melihat murid normal berprestasi dan murid autis bisa mengembangkan kemampuannya.
“Pokoknya senangnya itu luar biasa tidak bisa digantikan,” tutupnya.
Kepala SLB Autis Harapan Mandiri, Fahruddin Lakoni saat ini tercatat murid
normal yang bersekolah di yayasan ini sebanyak 116 anak sedangkan untuk anak autis yakni sebanyak 59 anak.
Untuk satu kelas terdiri dari tiga guru untuk mengajarkan materi serta menjaga para anak autis.
“Yayasan ini hanya sampai SD jadi anak normal itu melanjutkan ke SMP umum, kalau anak autis itu ada sekolah lanjutkan di yayasan ini sampai dengan
kelas karya,” katanya.
Kelas karya ini, mengajarkan para anak autis seperti membatik, bermain musik dan lain sebagainya. Tapi, meskipun di SMP anak normal dan autis berpisah terkadang anak normal masih datang kesini meski sudah lama tamat.
“Mereka kadang melihat teman mereka yang autis. Itulah tujuannya yayasan ini untuk membangun empati anak dari usia dini agar lebih mengerti dan memahami anak autis,” tutupnya. (Ab)
Editor : Chandra Baturajo.













