Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.
Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman.
Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman.
Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini.
Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan.
Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya.
Sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan.
Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun).
Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa? Karena visinya terlalu dangkal.
Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia.
Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan.
Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati. Masya’ Allah.













