KORDANEWS —- Dihadapan Komisi X DPR RI, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) spontan keluhkan rendahnya harga karet dan tingginya angka kemiskinan di Sumsel, saat mengunjungi di Griya Agung, Selasa (14/12).
Menurutnya dua hal itu sangat berkaitan erat dengan kualitas dan kelangsungan pendidikan bagi anak-anak di Sumsel, karena sebagian besar mata pencahariaan orang tua mereka adalah petani karet dan sawit.
“Sebagian besar karet di Indonesia ini ada di Sumsel. Saya minta ada terobosan untuk memperbaiki harga jual karet dan sawit ini supaya spirit anak-anak petani karet ini bersekolah tetap terjaga,” jelasnya
Guna mendongkrak harga komoditi andalan Sumsel tersebut, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya salah satunya segera mendirikan pabrik ban. Pabrik ini diharapkan dapat menyerap karet di tingkat petani.
Sedangkan untuk komoditi sawit, berencana kembali mengadopsi programnya saat menjadi Bupati OKUT mengubah sawit dan turunannya CPO menjadi tenaga biodesel dan keluar sebagai produk-produk seperti B100 atau B20.
” OKUT pernah melakukannya dan ini bisa jadi jalan keluar. Saat ini produk CPO kita sulit keluar karena terhalang di Eropa. Saya pikir ini strategi marketing mereka juga karena mereka menjual minyak bunga matahari,” jelasnya
Bukan hanya mendongkrak harga komoditi, kenaikan harga karet ini diharapkannya juga dapat menjadi cara ampuh menekan angka kemiskinan. Sebab dengan meningkatkan harga jual karet dan sawit, daya beli petani akan ikut
terangkat.
“Saya malu angka kemiskinan nasional sudah 1 digit dan Sumsel masih 12,80 persen. Saya ingin angka kemiskinan itu diturunkan sesegera mungkin. Salah satunya dengan peningkatan IPM,” jelas HD.
Terkait kedatangan tim Kunjungan Komisi X DPR RI meliputi Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Ekonomi Kreatif, menurut HD menjadi angin segar bagi Sumsel.













