BudayaEntertainment

Hari Jazz dan Perayaan Musik Perjuangan Kaum Minoritas

×

Hari Jazz dan Perayaan Musik Perjuangan Kaum Minoritas

Share this article

Musik jazz dipandang subversif, usaha pemberontakan kaum Afrika-Amerika. Gaya improvisasi musisinya dinilai sebagai ketidakpatuhan. Namun hal ini justru membuat pelaku dan pencintanya semakin bersemangat. Pada akhirnya, jazz menjadi simbol perjuangan kaum Afrika-Amerika.

Baru-baru ini, Netflix merilis film dokumenter bertajuk ‘Grass is Greener’. Di dalamnya, dijelaskan bahwa di era sulit itu, banyak musisi jazz yang menyanyikan lagu tentang ganja. Saat itu, pemerintah Amerika masih menolak mentah kehadiran tanaman tersebut dan hal ini memperburuk nilai sosial musik jazz.

Apalagi, waktu itu banyak lagu yang terang-terangan berbicara tentang ganja, yang disebut sebagai ‘reefer’. Salah satunya, lagu ‘Marijuana’ dari Julie Lee dan ‘When I Get Low, I Get High’ yang dinyanyikan oleh Ella Fitzgerald.

Wanita dalam Musik Jazz

Di momen bersamaan, para wanita AS mulai menuntut hal-hal yang lebih tinggi dan lebih besar daripada hanya menjadi istri yang berdiam di rumah melalui gerakan bernama Women’s Liberation Movement. Wanita Afrika-Amerika punya lebih banyak alasan untuk menyuarakan hati lewat musik jazz.

Nama Rosetta Reitz menjadi penting di sini. Wanita kelahiran tahun 1924 itu adalah seorang feminis yang mempelajari, mencintai dan mengoleksi musik jazz. Ia mendirikan label rekaman yang memproduksi 18 album jazz dan blues yang dinyanyikan oleh hanya para wanita. Ia dikenal karena merekam ulang album-album bersejarah, meneliti latar belakang para musisi dan menulis catatan tentang mereka.

Peran wanita tak hanya di belakang layar. Mereka juga hadir di depan, sebagai penyanyi, penulis lagu, atau membuat aransemen lagu. Lambat-laun, mereka semakin percaya diri untuk memainkan alat musik seperti trumpet, saxophone, drum, atau bass.

Datang dari kaum minoritas, posisi wanita dalam musik jazz menjadi semakin minor. Melba Liston yang memainkan instrumen trombone selama lima dekade, mempunyai cerita hidup kelam. Ia didiskriminasi, dipukuli dan dilecehkan secara seksual. Namun Liston juga mendirikan jazz band yang semua personelnya wanita, menelurkan album legendaris ‘Melba Liston & Her Bones’ dan menjabat sebagai Direktur Studi Musik Populer di sekolah musik Jamaica Institute of Music.( Cnn indonesia)

Ada pula Lil Hardin Armstrong, seorang musisi jazz yang amat dihormati. Seorang komposer, pianis dan pemimpin band yang mempunyai peran penting untuk Louis Armstrong, serta meninggalkan jejak mengesankan di King Oliver’s Creole Jazz Band, band legendaris di ranah jazz. Sejajar dengan kedua nama di atas, masih banyak wanita-wanita lain yang turut membentuk jazz sampai hari ini, misalnya pianis dan komposer Toshiko Akiyoshi yang belajar jazz secara otodidak di kedai-kedai jazz di Jepang.

Hari ini, Akiyoshi dikenal sebagai legenda Toshiko Akiyoshi Jazz Orchestra dan telah 14 kali menjadi nomine Grammy Award.

Di Indonesia sendiri, musik jazz pernah dianggap sebagai musik kaum elit. Tidak terjangkau seperti halnya musik pop. Pendapat yang lucu, karena siapa bisa menentukan apa yang harus didengar seseorang? Keberadaan platform musik seperti YouTube dan Spotify pun mengubah status ‘mahal’ jazz.

Hampir 100 tahun sejak populernya, musik jazz terus dimainkan dan diperdengarkan tanpa henti, orang dari berbagai kalangan mendengarkannya dan menari mengikuti irama, apapun ras dan warna kulit mereka. Seperti biasa, musik selalu memiliki caranya sendiri untuk menyentuh kehidupan seseorang.(Ist)
Editor : J.Wick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *