Health

Kisah Payudara Buatan Untuk Para Penyintas Kanker

×

Kisah Payudara Buatan Untuk Para Penyintas Kanker

Share this article

KORDANEWS – Kanker payudara menempati posisi pertama penyakit yang diidap masyarakat Indonesia. Para penyintas penyakit ini pun berusaha merekonstruksi penampilan demi mengembalikan kepercayaan diri.

Mereka yang berhasil menuntaskan operasi kini mulai memakai busa dan knoker atau rajutan khusus berbentuk payudara.

Di benak Murni Restu Ginanjar hanya ada dua hal: kematian atau kehilangan. Jika ia terus menunda-nunda keputusannya, maka nyawa jadi taruhan. Sementara ia, belum sanggup melepas salah satu organ tubuhnya.

“Saya butuh waktu sebulan sebelum akhirnya setuju operasi. Karena diangkat semua dan saya kehilangan sesuatu yang penting bagi saya sebagai wanita,” ucap Murni dengan suara pelan.

“Saya kehilangan payudara, ya gimana ya? Biasanya ada… tiba-tiba nanti saya tidak punya payudara,” sambungnya.
Usia Murni saat itu masih 25 tahun. Suatu malam di bulan Maret, ia merasakan sakit luar biasa di bagian payudara sebelah kiri. Tapi esoknya, lenyap. Nyeri itu pun diabaikan.

“Saya tidak terlalu ambil pusing. Ohh.. mungkin sakit biasa.”

Selang tiga bulan, sakit yang sama datang. Tapi kali ini, terus-terusan dan membuatnya tak bisa tidur semalaman. Orangtuanya lalu memutuskan membawa Murni ke rumah sakit umum untuk diperiksa.

“Sakitnya kayak ditusuk-tusuk jarum,” kata Murni sambil mengingat.

Dari situ, ia disarankan ke dokter spesialis onkologi dan hasil biopsi menunjukkan ada tumor ganas sebesar bola pingpong, bersembunyi di payudara kirinya.

Begitu divonis kanker payudara Stadium II, Murni tak bisa menahan tangis. Ia dibayangi kematian.

“Ternyata benjolannya ke dalam, jadi tidak kelihatan dari luar. Puting payudara saya juga ketarik ke dalam.”

“Gimana ya, besok masih hidup atau mati. Persepsi kanker pasti kematian.”

Butuh waktu sebulan untuk Murni mengambil keputusan, apakah setuju mengangkat seluruh payudara kirinya. Sebab beberapa anggota keluarga tak setuju. Tapi rekan kerjanya di rumah sakit menyarankan agar segera diambil tindakan. Kalau tak dilakukan, kanker itu akan semakin menjalar.

Murni mengikuti saran kedua. Pada November tahun 2016 di RS Santosa Bandung, ia dioperasi. Setelahnya menjalani kemoterapi sebanyak sembilan kali dan sesudahnya suntik terapi hormon selama dua tahun.

“Saya kena kanker ini karena hormon estrogenn kebanyakan. Saya terlalu subur. Terapi hormon ini supaya estrogennya stabil,” ujar Murni sambil tertawa.

Hanya memiliki satu payudara, percaya diri Murni sempat hilang.

“Kadang ada yang lihatin, kenapa gitu… pandangannya berbeda ke saya.”

Merasa ada yang ganjil dengan penampilannya, Murni memakai busa yang diselipkan ke dalam beha. Akan tetapi, tak terlalu nyaman dipakai. Apalagi kalau sedang berenang.

“Kalau pakai busa, kadang geser-geser.”

Rekonstruksi penampilan penyintas kanker payudara

Dwisanti, relawan di Komunitas Cancer Information and Support Center, lembaga nirlaba para penyintas kanker, menyebut hampir semua penyintas pasti berusaha merekonstruksi penampilannya pasca operasi. Itu demi mengembalikan kepercayaan diri.

“Bagaimanapun payudara itu bagian tubuh wanita, istilahnya harga diri kita. Kalau kehilangan pasti akan berasa. Saya sendiri, meski dibilang cukup siap, ketika bekerja kadang-kadang tidak nyaman. Seperti ada orang yang melihat kita aneh,” ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *