Health

Kisah Payudara Buatan Untuk Para Penyintas Kanker

×

Kisah Payudara Buatan Untuk Para Penyintas Kanker

Share this article

Di beberapa rumah sakit, pasien kanker payudara ditawari melakukan rekonstruksi payudara dengan operasi plastik. Bisa menggunakan silikon atau mencangkok dari bagian tubuh si pasien. Hanya saja, biayanya bisa sampai puluhan juta dan tak ditanggung dana BPJS.

“Di Indonesia belum jadi tren rekonstruksi payudara, karena lumayan mahal.”

Santi yang seorang dokter umum dan penyintas kanker, memiliki beberapa payudara palsu. Mulai dari silikon, busa, dan knoker atau rajutan khusus berbentuk payudara.

“Seperti orang berburu, mana yang nyaman sih.”

Dari semua pilihan itu, Santi lebih sering menggunakan knoker. Meski kadang, kalau sedang beraktivitas banyak, bergeser.

“Tapi kalau banyak gerak, mungkin silikon pilihan yang bagus.”

Dalam catatan Kementerian Kesehatan, ada dua jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).

Data per 31 Januari 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.

Payudara buatan

Sebermula dari niat membantu menumbuhkan kepercayaan diri penyintas kanker payudara, Desy Pujiarsi, belajar membuat payudara buatan dari silikon medical grade kepada seorang professor dari Jepang.

Bentuknya mirip payudara asli, ada puting dan aerola. Di bagian belakang, ada perekat yang bisa menempel ke kulit.

“Kalau bisa saya bilang hampir 85% seperti payudara asli dan kalau mau ngapain aja, posisi (payudara buatan) tidak akan berubah. Seperti menyatu dengan badan kita,” ujar Desy kepada BBC News Indonesia ketika ditemui di rumah sekaligus kliniknya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Tekstur payudara buatan itu lembut dan kenyal. Beratnya 350 gram, menyesuaikan dengan payudara asli. Perawatannya mudah, dibersihkan tiap kali dipakai. Tak boleh terpapar alkohol dan dapat bertahan dua sampai tiga tahun.

“Kalau kena benturan juga tidak apa-apa. Karena teksturnya lembut, bisa lindungi bekas jahitan.”

Untuk membuat satu payudara, Desy butuh satu hari. Tapi itu, untuk model biasa atau disesuaikan pesanan. Lain lagi kalau si pemesan ingin dibuatkan yang mirip dengan payudara asli, perlu maksimal tiga hari.

“Saya siapkan beberapa kap sesuai ukuran payudara. Jadi tinggal dicari mana yang paling pas nanti dibikinkan sesuai ukuran. Nah kalau custom orangnya harus datang, diukur, kalau perlu dicetak. Kalau mau dilukis kayak ada urat-uratnya atau tahi lalat biar sama kayak dulu, juga bisa.”

Harga satu payudara itu Rp2 juta karena bahan bakunya belum tersedia di dalam negeri, sehingga harus mengimpor dari Amerika Serikat.

Karena baru sebulan lalu selesai belajar membuat payudara palsu, Desy belum banyak mendapat pesanan. Murni Restu Ginanjar, sepupunya yang juga penyintas payudara, menjadi pasien pertama.

Perempuan 28 tahun ini, dulu terbiasa memakai busa yang diselipkan dalam beha. Ia baru ditawarkan menggunakan payudara palsu buaya Desy kira-kira beberapa minggu silam.

“Karena payudara yang saya pakai ini custom, jadi menyesuaikan payudara yang sebelah. Saya pakainya enak dan nyaman, enggak geser-geser,” imbuhnya.

“Tidak berat sebelah sih, kayak payudara asli.”(Ist)

Editor :J.Wick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *