Entertainment

John Wick 3: Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian Angkat Silat Indonesia

×

John Wick 3: Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian Angkat Silat Indonesia

Share this article

Sheila Timothy, produser film Wiro Sableng, yang diproduksi bekerja sama dengan produser film Hollywood, 20th Century Fox, mengatakan tantangan untuk membuat silat semakin menarik di panggung film besar Hollywood adalah mengangkat keunikan Indonesia dan juga dalam pengemasannya.

Supaya tak hanya sebagai sampiran

“Proyek yang kita buat yaitu Wiro Sableng, memang membutuhkan keunikan Indonesia di actionnya. Action martial art -nya itu mengacu ke silat Indonesia… Ketika kita approach 20th Century Fox, dan ketika kita bilang ini sangat Indonesia, dan kita menggunakan martial art asli indonesia yaitu pencak silat, mereka jadi makin tertarik lagi,” kata Sheila kepada Eric Sasono untuk BBC News Indonesia.

“Untuk mengemasnya yang buat saya menjadi satu challenge (tantangan) gitu. Pencak silat itu sudah cantik, sudah bagus, sudah menarik, tapi tentunya ketika menyodorkannya dalam bentuk film, visual, dan action, yang terpaku kepada framing, scene-scene dan potongan-potongan gambar, teknik film making yang memperkaya atau meng-upscale pencak silat itu sendiri bisa menjadi challenge buat kita,” tambahnya.

Tetapi pengamat film Ekky Imanjaya mengatakan film-film yang mengangkat silat perlu masuk ke bioskop luar negeri dan bukan hanya sekedar di festival agar pesilat seperti Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman tampil lebih menonjol.

“Yang kita butuhkan adalah seperti The Raid atau Marlina yang masuk ke dalam bioskop komersil di luar negeri. Tidak hanya di film festival dan setelah itu diketahui,” kata Ekky.

“Nah setelah dikenal, lebih besar kemungkinan bagi produser-produser luar negeri untuk menggarap silat, atau menggarap seperti Iko Uwais atau Yayan atau Cecep tak cuma jadi sampiran aja tapi memang jadi pemain, jadi pemain utama, dan temanya silat. Selama itu belum ada, cuma jadi itu aja, penghias.”

“Jadi silat ngga bisa dibiarkan sendirian berjuang gitu ya. Tapi juga harus diramu dengan ya misalnya production value nya harus internasional standard, terus ceritanya, terus juga spesial effect-nya, semuanya harus diramu jadi satu. Tapi silat yang jadi jiwanya, gitu,” tambahnya.

Yayan sendiri menyatakan harapannya justru pencak silat akan semakin diminati di dalam negeri.

“Harapan saya tidak muluk-muluk, namun dari perjalanan kami ini perjalanan luar biasa bahwa silat boleh berbangga bahwa diminati oleh banyak orang dan diterima dari bagian dari unsur yang mewarnai perfilman dunia. Ini kebanggaan buat saya, sebagai bagian dari masyarakat pencak silat,” kata Yayan.

“Saya berharap pencak silat bisa diminati oleh warga negara yang punya pencak silat sendiri,” tambahnya.

Cecep berpendapat sama dan menyatakan ingin lebih banyak menggali berbagai unsur daerah.

“Saya menggali ke belakang mengembangkan ke depan. Sampai sekarang belajar bertemu dengan tokoh tokoh silat untuk mempelajari yang belum kita kembangkan dan kenalkan ke luar. Dengan begitu silat kaya, ada dari Sumatra, Bugis dan lain-lain,” kata Cecep.

“Harapan kita dengan mengenalkan lebih baik, mudah-mudahan orang lebih mengenal silat dan mempelajari silat. Ke dalam juga sama. Banyak guru yang kalau kita tak tanya tak keluar. Harapannya supaya ada penerus,” katanya lagi.(Ist)

Editor :J.Wick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *