5. Bulgarian Split Squat: Gerakan “Penyiksa” Paha Depan…
6 Tipe Teman Yang Harus Di Jauhi

Di kemudian hari, cobalah untuk mengganti bahan pembicaraan dan menegaskan sisi cerahnya. Kuncinya di sini adalanh dengan memperhatikan mood kita, demikian menurut Heidi Hanna, penulis buku Stressaholic: 5 Steps to Transform Your Relationship With Stress. Katanya kepada Everyday Health, “Cara terbaik untuk membatasi stress tangan kedua adalah untuk melindungi sendiri energy kita.”
4. Orang yang selalu adu mulut dengan kita
Kita semua sudah pernah bertemu dengan orang yang berpendapat dengan tajam, sehingga terasa seperti sengaja berbeda dengan kita. Apapun yang kita utarakan selalu bertentangan dengannya.
Tak ada seorangpun yang ingin terus menerus dalam keadaan bergolak. Kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa seringnya adu mulut dengan pasangan atau teman dapat berbahaya bagi kesehatan, demikian dilaporkan BBC.
“Tegaskan apa yang penting untuk kita daripada hanya mengandalkan umpan balik dari orang lain,” kata Reiss. “Kuatkan dalam diri kita hal-hal yang baik.” Ini berarti kukuh dengan apa yang kita percaya, tidak pusing dengan apa yang menjadi omongan orang.
5. Orang yang memanfaatkan kita
Kata Reiss, “Tak ada orang yang bisa menginjak-injak kita kecuali kalau kita mengijinkannya. Kalau kita merasa diperlakukan dengan buruk, kita sebetulnya punya kekuatan untuk memperbaikinya.”
Kita tidak punya ruang dalam hidup kita untuk orang-orang yang memanfaatkan kita. Menolong sesama adalah suatu hal dan penelitian bahkan membuktikan bahwa hal itu baik bagi kesehatan kita. Tapi jika kebaikan ini hanya berjalan satu arah, mungkin sudah saatnya untuk menangani situasi ini.
Menurut Reiss, “Jelaskanlah dalam cara yang tidak menghakimi mengenai apa yang tidak bisa kita terima. Cobalah untuk menghubungi orang itu. Jangan menuntut, tapi tunjukkanlah apa yang menjadi masalah. Kemudian cobalah untuk mencari cara bagaimana hal itu bisa diperbaiki tanpa adanya harapan muluk-muluk dari orang tersebut.”
6. Orang yang menjadi pengaruh buruk
Perlu keberanian kuat untuk menggerus kebiasaan buruk dalam diri kita. Reiss mengatakan bahwa hubungan yang positif melindungi kepentingan kita, padahal hubungan yang penuh stress malah menghasilkan yang sebaliknya. “Jika hubungannya beracun, hal itu mengganggu hal-hal yang kita sadari sebagai menyehatkan bagi kita,” ujarnya.
“Manusia bisa menderita. Itu bisa membuatnya tidak bahagia, atau hubungan itu bisa mengganggu dengan kemampuan kita untuk melangkah maju dengan tujuan-tujuan kita.”
Reiss juga mengatakan agar jangan membiarkan hubungan-hubungan di atas menjerumuskan kita ke dalam sumur yang berisi pilihan-pilihan negatif. Jika mereka memang teman atau pasangan yang memang penuh arti, mereka akan mengerti dan menerima keputusan-keputusan sehat kita.( Ist )
Editor :Jhon.W












