KORDANEWS – Masa setelah melahirkan merupakan periode penting…
Apa yang Terjadi Pada Tubuh Jika Kita Tidak Makan Gula Sama Sekali?

Seseorang dikatakan mengalami hipoglikemia jika kadar glukosa darahnya kurang dari 70 miligram per desiliter (mg/dL), atau 3,9 milimol per liter (mmol/L). Kondisi glukosa darah yang rendah ini sebagian besar terjadi pada para diabetesi (orang yang menderita diabetes).
Alasannya karena para diabetesi rutin mengonsumsi obat-obatan yang membantu menurunkan kadar glukosa darah, atau menggunakan insulin buatan. Insulin dan obat-obatan diabetes tersebut memang berguna untuk menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi.
Hanya saja, teralu banyak menggunakan insulin dan obat-obatan tersebut justru bisa membuat kadar glukosa darah Anda turun drastis hingga di bawah normal. Meski kerap menyerang orang dengan diabetes, kondisi hipoglikemia ini juga tidak menutup kemungkinan bisa juga dialami oleh orang yang tidak memiliki diabetes.
Ada dua jenis hipoglikemia pada orang non diabetes, yakni hipoglikemia reaktif dan puasa. Hipoglikemia reaktif bisanya muncul dalam kurun waktu beberapa jam setelah makan. Sebaliknya, hipoglikemia puasa sama sekali tidak berkaitan dengan makanan.
Hipoglikemia jenis ini lebih disebabkan oleh suatu penyakit, seperti hepatitis, gangguan pada kelenjar adrenal atau hipofisis, gangguan ginjal, hingga tumor pankreas. Bukan hanya itu, konsumsi alkohol yang berlebihan dan penggunaan obat-obatan tertentu bisa membawa Anda pada merosotnya kadar glukosa darah dalam tubuh.
Jika hipoglikemia terjadi pada orang yang sebelumnya tidak memiliki tanda dan gejala diabetes, jangan tunda untuk segera mengonsultasikan pada dokter. Sebab tidak menutup kemungkinan, kondisi ini bisa mengakibatkan masalah kesehatan yang serius.
Apa yang terjadi jika tidak makan gula sama sekali?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa yang selanjutnya digunakan sebagai energi. Itu sebabnya, ketika Anda tidak sama sekali makan karbohidrat, maka tubuh tidak mendapatkan glukosa yang kemudian akan berujung pada kekurangan produksi energi.
Padahal, asupan karbohidrat ini sangat berpengaruh terhadap fungsi normal tubuh, terutama kerja otak. Pasalnya, kerja otak yang merupakan sumber sistem saraf pusat tubuh, sangat mengandalkan ketersediaan glukosa di dalam darah. Singkatnya, glukosa merupakan satu-satunya “bahan bakar” yang mampu mendukung otak agar dapat bekerja secara optimal.
Otak manusia tidak memiliki tempat penyimpanan glukosa sendiri, sehingga semua suplai glukosa tergantung pengiriman dari aliran darah tubuh Anda. Sel-sel di otak termasuk salah satu bagian yang memerlukan sumber energi lebih banyak daripada sel-sel lainnya dalam tubuh. Itu sebabnya, kebutuhan glukosa pada otak cenderung lebih besar.
Ketika kebutuhan karbohidrat dalam tubuh tidak bisa terpenuhi dengan baik, maka akan memengaruhi kadar glukosa dalam darah berada hingga di bawah rentang normal. Hal ini bisa mengakibatkan otak kehilangan sumber energinya, yang tentunya juga memengaruhi kerja organ-organ tubuh yang lain.
Namun ingat, pemenuhan kebutuhan karbohidrat ini tidak melulu berasal dari gula pemanis tambahan yang Anda tambahkan ke dalam makanan atau minuman Anda. Sumber karbohidrat utamanya berasal dari makanan pokok, dan dapat Anda tambahkan melalui konsumsi buah dan sayur.
Tidak makan gula mengganggu sistem saraf pusat
Lebih buruknya lagi, keputusan untuk tidak makan gula sama sekali juga secara otomatis akan menimbulkan beragam masalah pada sistem saraf pusat Anda. Biasanya, Anda akan cenderung merasa lemas, lelah, pusing, atau terlihat pucat.
Selain itu, Anda mungkin juga merasakan munculnya tanda-tanda stres seperti sering merasa gelisah, gugup, tidak nyaman, dan mudah marah. Menolak untuk makan sumber pemanis juga bisa membuat tidur malam Anda terganggu.
Mimpi buruk, menangis saat tidur, insomnia, maupun gangguan tidur lainnya, bisa menjadi kondisi “langganan” Anda yang datang silih berganti setiap malam. Beberapa orang kerap mengeluhkan jadi mudah berkeringat, sulitnya koordinasi anggota tubuh, atau mati rasa pada mulut.
Akibatnya, aktivitas sehari-hari pun kerap terganggu dan terhambat. Bahkan dalam kondisi yang lebih parah bisa menyebabkan pandangan terlihat kabur, gemetar, sulit untuk berkonsentrasi, hilang kesadaran, kejang, dan koma. Itu sebabnya, kondisi ini tidak bisa dibiarkan bertahan terlalu lama dan harus segera diobati sebelum berakibat fatal.
Editor :John.W












