“Koordinasi ini bertujian agar bisa memaksimalkan dana CSR perusahaan untuk dunia usaha UMKM. Jadi ada sinergi antara perusahaan, Forum CSR dan masyakat dalam mengentaskan kemiskinan,: tambah J Riantony.
Dalam sesi diskusi banyak peserta yang antusias menanggapi dan memberi masukan, baik perusahaan maupun Lembaga Amil zakat. Salah satu yang disorot, adalah wilayah Kertapati yang sulit dibina karena dikenal “keras”.
Sumedi dari Rumah Zakat dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa didalam setiap penyaluran dana sosial harus juga ada pembinaan agama. Sehingga selain diberi bantuan, penerima juga akan mendapatkan pembinaan agama.
“Rumah Zakat selama 2018 hingga 2019 telah melakukan pemberdayaan desa, contohnya di Muara Enim ada Komunitas Pemuda Hijrah. Dimana dahulu sebelum dibina Rumah Zakat, para pemuda nongkrong mabuk-mabukan. Namun setelah ada pembinaan agama dan ekonomi berupa budidaya lele, mereka berubah baik dan sholeh,” tuturnya.
Jadi, lanjut dia, di wilayah Kertapati yang dibilang keras pun pembinaan juga mungkin dilakukan. Karena jika pembinaan dilakukan dengan keroyokan, maka wilayah itu bisa lebih baik, baik dari segi ekonomi, maupun akhlaknya. “Perusahan disana bantu di dana usaha, sementara Lembaga Amil Zakat support pembinaan agama,’’ tukasnya.
Editor : Chandra.













