Hal tersebut mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa tingkat pendidikan rendah memprediksi pendapatan yang rendah pula – yang pada gilirannya terkait dengan kehidupan yang serba penuh tekanan.
“Apa yang saya pikir sedang terjadi adalah sangat sulit untuk memiliki pernikahan yang bahagia dan produktif, ketika keadaan hidup Anda begitu penuh tekanan dan ketika kehidupan sehari-hari Anda melibatkan, katakanlah tiga atau empat rute bus untuk mencapai pekerjaan Anda.”
4. Menganggap rendah pasangan
John Gottman, seorang psikolog di University of Washington dan pendiri Gottman Institute, menyebut empat perilaku yang menyebabkan hubungan menemui ‘kiamat’-nya.
– Penghinaan: Melihat pasangan lebih rendah dari dirinya.
– Kritik: Berusaha mengubah perilaku pasangan dengan kritik.
– Pertahanan diri (defensif): Menganggap diri sendiri sebagai korban saat menghadapi masa sulit.
– Stonewalling: Memblokir percakapan atau menolak berkomunikasi.
Perceraian.
5. Terlalu sayang saat masih pengantin baru
Peneliti mengungkap dalam Psychology Today, pasangan yang pernikahannya dimulai dengan kebahagiaan romantis sangat rawan perceraian karena intensitas seperti itu tak akan bertahan lama. Percaya atau tidak, pernikahan yang ketika masa awal memiliki romansa lebih sedikit biasanya memiliki masa depan yang lebih menjanjikan.”
6. Akumulasi stres harian
Sebuah makalah tahun 2007, yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships, meneliti faktor-faktor yang menyebabkan perceraian pada pasangan Eropa dan menemukan bahwa stres sehari-hari adalah alasan penting di balik keputusan perceraian pada banyak pasangan.
Bahkan persoalan sepele, seperti melupakan janji makan malam bersama atau meletakkan barang sembarangan bisa menciptakan ketegangan di antara pasangan.
7. Menghindari konflik
Ketika pasangan Anda mencoba berbicara dengan Anda tentang sesuatu yang sulit, apakah Anda menghindar?
Sebuah studi 2013, yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family, menemukan bahwa perilaku menarik diri atau menghindar dari suami memprediksi tingkat perceraian yang lebih tinggi. Kesimpulan ini didasarkan pada wawancara para peneliti dengan sekitar 350 pasangan pengantin baru yang tinggal di Michigan.
8. Menilai hubungan Anda secara negatif
Pada tahun 1992, Gottman dan peneliti lain di University of Washington mengembangkan prosedur yang disebut “wawancara sejarah lisan” di mana mereka meminta pasangan untuk berbicara tentang berbagai aspek hubungan mereka. Dengan menganalisis percakapan, para peneliti dapat memprediksi pasangan mana yang sedang menuju perceraian.
Editor:John.W













