EkonomiNusantara

Ekspor Karet RI Anjlok Ratusan Ribu Ton Tahun 2019

×

Ekspor Karet RI Anjlok Ratusan Ribu Ton Tahun 2019

Share this article

KORDANEWS – Volume ekspor komoditas ekspor mengalami penurunan drastis selama semester I-2019. Pada periode itu ekspor karet anjlok hingga 200.000 ton.

“Ini kali pertama karet Indonesia mengalami penurunan ekspor dalam ratusan ribu ton,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo Rabu (24/7/2019).

Ia sebelumnya sempat menaruh heran karena periode tersebut bukanlah musim gugur daun yang semestinya tidak menyebabkan produksi karet menurun. Ditambah lagi kondisi pasar di mana saat pasokan karet berkurang, harga karet justru tidak mengalami kenaikan.

Usut punya usut, anjloknya produksi karet terjadi akibat serangan penyakit gugur daun atau Pestalotiopsis sp. pada pohon karet. Gejalanya diperkirakan muncul sejak 2017 silam dan terus meningkat pada 2019.

Pohon yang terkena penyakit ini akan mengalami gugur daun berulang dalam periode panjang bahkan di luar periode alami yang terjadi saat musim kemarau saja. Hal inilah yang berdampak pada penurunan produksi karet.

“Per 16 Juli 2019, sudah mencapai luasan 381,9 ribu hektar. Kalau ini dipersentasikan, jumlahnya sekitar 10-11% dari total 3,6 juta hektare lahan,” ujar Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono.

Luasan tersebut mencakup 6 provinsi, di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Kesimpulan ini muncul atas hasil penelitian yang dilaksanakan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN). Temuan ini kemudian menjadi bahan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Perekonomian Darmin Nasution, Rabu (24/7/2019).

Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono menerangkan dalam kajiannya, tim peneliti sudah mengidentifikasi serangan gugur daun di provinsi-provinsi yang merupakan sentra perkebunan karet.

Penyakit gugur daun tidak hanya mendera Indonesia tetapi juga negara tetangga Malaysia, terutama bagian semenanjung Melaka. Eskalasinya diprediksi akan semakin luas di Indonesia. Kasdi menyebut Jambi mulai ikut terdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *