KORDANEWS — Wabah penyakit Pestalotipsis So atau dikenal dengan penyakit gugur daun kini menyerang lahan karet di Sumatera Selatan (Sumsel).
Sebanyak 400 hektare lahan karet terkena wabah penyakit, dengan jumlah tersebut merupakan yang terparah sepanjang 2017 hingga 2019.
“Serangan lahan luas kebun yang terpapar saat ini sudah merata di setiap kabupaten dan kota penghasil karet,” ujar Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Rudi Arpian di Palembang, Kamis (25/7).
Dia menjelaskan, rata-rata serangan mencapai 30 persen hingga 50 persen per kabupaten dan kota. Ini diakibatkan gulma yang ada di kebun karet sudah menjadi inang. Sebenarnya, perdebatan dan penanggulangan tidak cukup dengan bantuan pupuk saja karena paling efektif dengan gerakan gulma atau sanitasi lingkungan secara keseluruhan.
Bukan hanya itu, kata dia, jika kebun sebelahnya tidak diaktifkan maka inangnya akan kembali lagi. “Untuk itu, Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel yang dikomandoi UPTD BPTP saat ini gencar melakukan sosialisasi kepada camat dan kades untuk melakukan gerakan sanitasi lingkungan dengan cara membersihkan areal pertanaman kebun karet dari gulma, daun-daun, ranting yang digunakan oleh angin atau rontok,” kata dia.













