“Tapi, biasanya songket masih bagus-bagus karena dijaga,” katanya.
Kedepan, yang diharapkan pemerintah, terus mendukung kelestarian songket di Palembang karena ini merupakan ciri khas Kota Pempek.
“Ya, jika bisa dibuka juga sekolahan cara menenun songket jadi kain ini bisa lebih baik lagi kedepannya,” singkatnya.
Hasil karya tersebut dijual mulai dari harga Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta sesuai motif dan tingkat kesulitan tenunan songket. Meski tergolong mahal, kain ini tetap menjadi primadona dan diburu masyarakat baik di Palembang hingga luar negeri.

Sementara itu Penenun Songket, Khadijah (50) telah menenun songket sejak 30 tahun yang lalu, membuat songket sudah menjadi kehidupannya.
Ditemui di Songket Serengan Sejati, dia belajar menenun dari rumah. Menurutnya, untuk menenun sebuah songket Dibutuhkan kesabaran. Karena, harus menyusun setiap benang menjadi kain songket yang indah dan anggun.
“Kalau awal menenun dulu itu yang paling sulit untuk menyusun benangnya,” katanya.
Seiring dengan waktu. Meskipun begitu, untuk membuat songket diperlukan waktu selama satu bulan. Bahkan, jika motif yang dibuat sulit bisa mencapai tiga bulan. Terkait, masih dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian dalam menyusun benang tersebut.
Menurutnya, tingkat kesulitan pembuatan songket Palembang cukup tinggi berbeda dengan tingkat kesulitan songket di daerah Sumsel lainnya.
Pembuatan songket Palembang sulit dilakukan karena sulit dipasang. Berbeda dengan daerah lain.
“Biasanya kami mendapatkan upah untuk satu selendang yaitu Rp 350 ribu,” katanya.
Dirinya berharap kedepan, akan lebih banyak lagi penenun-penenun yang ada di Kota Palembang. Jangan sampai penenun songket ini hilang karena modernisasi saat ini.
“Semoga saja, akan banyak penenun-penenun muda yang pandai berinovasi menciptakan motif baru,” tutupnya.
Editor: Jhonny













