Oleh karena itu, Kepala Negara menekankan, bahwa sikap sigap dan waspada menghadapi ketidakpastian sangatlah penting. Kapasitas kita dalam mengelola risiko menghadapi gejolak ekonomi global, mengelola bencana yang tidak terduga harus diperkuat.
“Pembangunan kita harus sensitif terhadap berbagai risiko. Infrastruktur harus disiapkan mendukung mitigasi risiko bencana. Masyarakat juga harus waspada dan sadar risiko,” tutur Kepala Negara.
Sebelumnya Presiden Jokowi juga menyampaikan, bahwa kita juga harus tanggap dan siap dalam bidang pertahanan keamanan. Menghadapi perang siber, menghadapi intoleransi, menghadapi radikalisme, menghadapi terorisme, serta menghadapi ancaman kejahatan-kejahatan lainnya baik dari dalam maupun luar negeri yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita.
“Indonesia tidak takut terhadap keterbukaan,” tegas Presiden Jokowi.
Menurut Kepala Negara, kita hadapi keterbukaan dengan kewaspadaan.
“Kewaspadaan terhadap ideologi lain yang mengancam ideologi bangsa. Kewaspadaan terhadap adab dan budaya lain yang tidak sesuai dengan kearifan bangsa kita. Kewaspadaan dalam apapun yang mengancam kedaulatan kita,” ujar Presiden Jokowi.
Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi itu dihadiri oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Presiden terpilih 2019-2024 K.H. Ma’ruf Amin, Ibu Shinta Nurriyah Abdurrahman Wahid, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan Hamzah Has, Sandiaga Uno, dan para duta besar negara sahabat.













