KORDANEWS -Anda mungkin pernah membaca berita, melihat tren diet baru, atau iklan yang menggembar-gemborkan manfaat kesehatan dari sejumlah makanan tertentu, yang masuk ke dalam satu kategori khusus: superfood — mulai dari memperlambat penuaan hingga mendorong penurunan berat badan. Begitu banyak informasi yang kita dapatkan dapat membuat bingung.
Jadi, apakah superfood benar ampuh mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke?
Apa itu superfood?
Superfood adalah kelompok makanan — kebanyakan termasuk sumber makanan nabati, namun juga ikan-ikanan dan produk susu — yang dianggap memiliki kekayaan nutrisi begitu padat, sehingga baik untuk kesehatan tubuh. Blueberry, salmon, dan acai berry hanyalah beberapa contoh makanan yang telah dinobatkan sebagai makanan super.
Namun demikian, tidak ada set kriteria maupun daftar yang disetujui dari sejumlah makanan tertentu untuk menentukan apa yang tergolong superfood dan bukan, menurut American Heart Association.
“Superfood tidak memiliki kelompok makanan mereka sendiri,” kata Despina Hyde, seorang ahli diet terdaftar dalam program manajemen berat badan dari Langone Medical Center di New York University, dilansir dari Live Science. “Sebagai ahli gizi, saya pikir ‘superfood’ lebih kepada istilah pemasaran untuk makanan yang memiliki manfaat kesehatan.”
Tapi itu tidak menghentikan banyak produsen makanan dari mendanai para akademisi untuk melaksanakan penelitian terhadap manfaat kesehatan dari produk mereka.
“Makan ‘makanan super’ tentu tidak akan menyakiti Anda. Kebanyakan sangat sehat,” ujar pakar nutrisi Penny Kris-Etherton, Ph.D., RD dari American Heart Association. “Sebagai ahli gizi terdaftar, saya ingin melihat orang makan lebih banyak makanan super seperti biji-bijian, kacang-kacangan, kacang-kacangan dan biji-bijian, ikan, lemak ikan dan semua buah-buahan dan sayuran.”
Benarkah “superfood” benar-benar makanan super?
Tren superfood memanfaatkan fakta bahwa pilihan gaya hidup sehat termasuk diet, dapat mengurangi risiko kita terhadap penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker. Industri makanan ingin meyakinkan kita bahwa hanya dengan memakan beberapa makanan tertentu dapat memperlambat proses penuaan, menghilangkan depresi, menggenjot kemampuan fisik kita, hingga bahkan kecerdasan.
Akibatnya, yang terjadi di dunia nyata adalah banyak orang yang pada akhirnya hanya memfokuskan diri untuk mengonsumsi satu-atau dua jenis makanan super untuk menutupi pola makan yang buruk atas dasar ekspektasi yang tidak realistis terhadap makanan-makanan ini — berpikir bahwa mereka akan terlindungi dari penyakit kronis dan masalah kesehatan lainnya.
Membatasi pilihan makanan hanya satu-dua jenis makanan tertentu dan mengonsumsinya terlalu banyak sebenarnya dapat mencegah Anda dari mendapatkan nutrisi yang Anda butuhkan. Selain itu, sebagian besar penelitian seputar superfood yang menguji senyawa kimiawi dan ekstraksi konsentrasinya tidak ditemukan dalam keadaan alami makanan tersebut.
Bawang putih, contohnya, sebagai salah satu superfood mengandung nutrisi yang diduga membantu mengurangi kolesterol dan tekanan darah. Tapi, pada kenyataannya, untuk mencapat gol tersebut, Anda diharuskan untuk makan hingga 28 siung bawang putih dalam satu hari untuk menyamai dosis yang digunakan pada penelitian.
Selain itu, masih banyak penelitian terhadap makanan-makanan super ini yang terbilang kecil dan tidak konklusif. Dilansir dari NHS, satu studi kecil dari tahun 2008 menemukan minum 12 0ml jus goji berry setiap hari selama 14 hari meningkatkan kesejahteraan emosi, aktivitas otak, dan pencernaan. Namun, penelitian ini hanya melibatkan 34 orang dan berusaha untuk mengukur efek dari jus goji berry pada berbagai kondisi yang lebih umum. Hasil penelitian ini tidak meyakinkan.
Sebuah studi pada tahun 2012 dari 93.000 wanita menemukan bahwa partisipan yang mengonsumsi tiga atau lebih porsi blueberry dan stroberi selama seminggu memiliki risiko 32 % lebih rendah dari serangan jantung dibandingkan dengan mereka yang makan buah sebulan sekaliatau kurang. Namun, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa blueberry merupakah faktor utama yang menyebabkan penurunan risiko ini.
Ingin sehat? Tetap bisa dicapai tanpa superfood
Pelabelan beberapa makanan sebagai ‘superfood’ juga dapat memberikan kesan bahwa makanan lain dalam diet kita tidak sehat ketika, dalam kenyataannya, makanan ini juga memberikan nutrisi yang sama berharganya dengan apa yang ditemukan di superfood. Wortel, apel, dan bawang, misalnya, yang dikemas dengan beta-karoten, serat, dan varietas quercetin yang terbukti memiliki peran penting dalam kesehatan tubuh. Varietas whole grain dari makanan berbasis tepung seperti sereal, roti, nasi, dan pasta juga tinggi serat pangan.
“Sebagai ahli gizi, saya pikir ‘superfood’ hanya sekadar istilah pemasaran untuk makanan yang memiliki manfaat kesehatan,” kata Despina Hyde, seorang ahli diet terdaftar dalam program manajemen berat badan di Langone Medical Center dari New York University. Mengkonsumsi makanan yang diperkaya dengan nutrisi — superfood — tentu saja merupakan ide yang baik, ungkap Hyde. Tapi, kunci untuk diet sehat adalah dengan mengonsumsi berbagai makanan bergizi dalam jumlah yang tepat, tambahnya.
Gagasan ini juga diperkuat oleh Kris-Etherton. Jelasnya, banyak makanan “super” ini yang memang baik untuk kesehatan jantung dan tubuh secara umum ketika dimasukkan ke dalam pola makan seimbang yang baik untuk kesehatan jantung antara porsi protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, buah, sayur, dan susu serta produk susu rendah lemak. Pola diet ini juga harus mencakup kacang, biji-bijian, ikan, dan minyak sayur.
12 superfood yang patut Anda coba
Cara terbaik untuk makan sehat adalah memasukkan sejumlah superfood ke dalam menu makan Anda sehari-hari. Sangat mudah untuk menambahkan pilihan makanan kaya nutrisi dan tentunya enak di lidah yang tidak hanya menciptakan sebuah menu masakan yang menggoda nafsu makan, namun juga akan membawa manfaat kesehatan jangka panjang.













