KORDANEWS – Ole Gunnar Solskjaer layak mendapatkan pujian atas keberanian dan kecerdasannya ketika meramu taktik Manchester United untuk menghadapi Liverpool. Formasi 3-4-1-2 pilihan Solskjaer terbukti manjur.
Bermain di Old Trafford, MU tampil cukup baik untuk menutup pertandingan dengan skor imbang 1-1. Setan Merah seharusnya bisa meraih hasil lebih baik jika tidak lengah di akhir pertandingan.
Sebelum laga ini, MU berada dalam situasi sulit. Mereka diprediksi tidak akan berdaya menghadapi Liverpool yang begitu kuat sejauh ini. Di atas kertas, tidak ada alasan Liverpool untuk tidak menang.
Kendati demikian, yang terjadi justru sebaliknya. Hasil imbang ini justru membuat Liverpool bersyukur, MU yang kecewa gagal menang. Ada sejumlah alasan MU tampil baik, mulai dari masalah mental sampai taktik jitu Solskjaer.
3-4-1-2 yang Tak Biasa
Duel panas ini tersaji tepat setelah jeda internasional, artinya ada sejumlah pemain yang kondisinya tidak maksimal. Solskjaer pun harus kehilangan sejumlah pemain andalannya, khususnya Paul Pogba.
Uniknya, di tengah kesulitan itu Solskjaer justru berani membuat keputusan ekstrem. MU yang sebelumnya selalu menurunkan formasi 4-3-3 berubah drastis untuk pertandingan ini. Solskjaer menurunkan formasi 3-4-1-2.
Formasi ini mungkin cenderung defensif, tergantung pada bagaimana pendekatan tim. MU bisa bertahan dengan lima bek pada momen-momen penting.
Taktik Jitu
Perdujian 3-4-1-2 ini berisiko, tapi layak diambil. MU bisa mencapai level performa yang dibutuhkan untuk pertandingan sebesar ini. Tidak hanya menghentikan Liverpool, mereka pun bisa menelanjangi kelemahan The Reds.
Solskjaer melakukannya dengan tiga bek tengah dan dua bek sayap, serta dua penyerang (Marcus Rashford dan Daniel James) yang bisa bermain melebar dan jauh di depan.
Jika bek-bek sayap Liverpool naik menyerang, mereka harus berhati-hati menyambut kemungkinan serangan cepat Rashford dan James di kedua sisi sayap. MU memanfaatkan kecepatan dua pemain ini dengan bola-bola lambung.
Taktik ini membuat MU tampil begitu agresif sejak awal pertandingan, Liverpool kesulitan, dan pada akhirnya mereka bisa mencuri gol lewat Marcus Rashford.
Tangguh di Belakang
Bukan hanya saat menyerang, taktik ini pun kuat ketika bertahan. MU membuat Liverpool frustrasi sepanjang pertandingan, aliran umpan The Reds kerap macet di tengah lapangan.
Liverpool dikenal sebagai tim agresif yang doyan mencetak banyak gol, tapi kekuatan ini jelas tidak terlihat saat melawan MU. Tidak biasanya Liverpool tampak frustrasi, mereka tampak kesulitan ketika tidak menemukan celah di barisan bek lawan.
Lima bek MU bisa bertahan begiutu rapi. Tidak hanya menutup ruang penyerang-penyerang Liverpool, mereka juga mampu menahan salah satu senjata andalan The Reds – agresivitas kedua bek sayap.













