“Ada tahapan penanaman, produksi dan marketing. Petani kita kan banyak keterbatasan karena mereka rata-rata hidup di desa-desa, maka kita pemerintah dan asosiasi-asosiasi yang harus menggagas ini mulai dari cara menanam,produksi hingga marketingnya, “Katanya.
Selain itu kopi juga dapat dipelihara dengan cara konvensional, dijual dengan cara tradisional sudah dapat memberikan kesejahteraan.
“Apalagi kita olah secara modern kita jual dengan memanfaatkan digital saat ini, kita yang punya tanggung jawab ini agar mereka bisa mendunia,” katanya.
Bahkan menurutnya saat ini sudah ditemukan peremaajan lahan itu tidak harus dengan replanting ataupun menebang. Melainkan dengan membuat tunas baru yang produksi nya bisa bertambah berlipat-lipat. Untuk diketahui pula Provinsi Sumsel punya kopi liberica yang masih sangat mungkin secara kuantiti ditambah, karena liberica bisa hidup di tanah yang dataran rendah, bahkan di lahan gambut.
“Kota pagaralam punya permohonan untuk pemprov mentriger ini, dan sudah Saya setujui Lebih kurang 1 juta bibit untuk tempelnya, Artinya kita juga bersosialisasi cara pengolahan kopi menjadi bahan tanam,” tambahnya. (Ab)
Editor : Jhonny













