KORDANEWS — Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II merupakan bangunan yang terletak di kawasan wisata Benteng Kuto Bedak (BKB) di tepi sungai Musi. Bangunan megah berukuran panjang 32 meter, lebar 22 meter dan tinggi 17 meter, dengan aksitektur gaya Eropa dan di bangun oleh pemerintah kolonial pada saat itu yang menjabat sebagai residen adalah Van Sevenhoven, mulai tahun 1823 dan selesai tahun 1825 sebagai rumah residen Belanda yang sekarang ini telah menjadi Museum.
Bahkan sejak tanggal 30 November 2016 struktur organisasi SMB II berada di bawah ke pengelolaan Dinas Kebudayaan pada Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman di bawah Kepala Seksi Permuseuman dan Bangunan Bersejarah. Secara struktural pertanggungjawaban museum berada pada Dinas Kebudayaan Kota Palembang.
“Salah satu misi Museum SMB II ini menyediakan informasi dan materi edukasi sejarah dan budaya Palembang serta melakukan kerjasama dengan instansi dan sekolah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah S.I.P. M.Si saat dibincangi di Museum SMB II Palembang yang ada di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II, Selasa (21/1).
Dengan adanya Museum SMB II Palembang ini masyarakat bisa belajar dan mengenal sejarah Palembang. Sebab disini banyak koleksi barang sejarah dan juga menjelaskan tentang sejarah yang ada, serta ada juga tentang kebudayaan Palembang seperti ada dijelaskan tentang pakaian adat Palembang, kain khas Palembang, dan lain-lain.
“Total koleksi yang ada di sini 798 buah, dengan rincian jenis dan jumlah koleksi seperti arkeologi ada delapan buah, etnoigrafika sebanyak 221 buah, numismatika sebanyak 234 buah, biologika sebanyak 15 buah, kramalogika sebanyak 267 buah, seni rupa sebanyak 7 buah dan filologika sebanyak 15 buah dan koleksi historika 23 buah,” jelasnya.
Disini juga ada dijelaskan tentang silsilah raja Palembang yang terpanjang dalam bentuk bingkai silsilah, mulai dari Majapahit hingga SMB.
Ada juga di pajang lambang kesultanan. Lambang kesultanan ini dibuat oleh seorang bangsawan bernama Raden Natodirojo. Lambang kesultanan tersebut terdiri dari sinar matahari yang melambangkan kehidupan, lalu timbangan yang melambangkan hukum dan pondasi dari pada hukum adalah kitab suci Al Qur’an. Kemudian ada lambang keris yang melambangkan pembelaan diri, dan ada bola dunia berbentuk kipas yang melambangkan satu keturunan hanya berbeda suku dan bangsa. Lalu ada lambang bulan sabit dan didalamnya ada surat Al Imron.
Lalu ada juga tentang kain khas Palembang seperti sewet tajung yaitu kain yang dipakai khusus laki-laki yang disebut dengan Gebeng atau tajuk rumpak. Sedangkan untuk wanita disebut dengan kain tajung belongsong, sewet tajung ini dalam pembuatannya memakan benang sutra.
Untuk jam operasional Muesum SMB II hari Senin mulai pukul 13.00-15.00, lalu Selasa-Jumat pukul 08.00-16.00 dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00. Harga tiket masuknya cukup terjangkau yaitu pelajar hanya Rp 1000, mahasiswa hanya Rp 2000 dan umum Rp 5000. Kalau mancanegara Rp 20 ribu. Tarif tiket ini sesuai dengan Perda nomor 2 tahun 2012 tentang retribusi pemakaian kekayaan daerah.
Menurutnya, setiap tahunnya angka kunjungan ke museum ini fluktuatif seperti di tahun 2015 sebanyak 13 ribuan pengujung, 2016 sebanyak 23 ribuan pengujung, di 2017 sebanyak 21 ribuan pengujung dan di 2018 sebanyak 13 ribuan pengunjung. Kita terus berupaya agar masyarakat senang berkunjung ke museum dengan menghadirkan berbagai kegaitan seperti ada permainan tradisional dan lain-lain.
Sebab dijaman yang serba digital ini banyak anak-anak lebih suka main gadget ketimbang belajar sejarah. Untuk itu perlu usaha dan inovasi agar anak-anak dan masyarakat senang berkunjung ke museum. (Ab)
Editor : Jhonny













