Pada rapat percepatan penyesuaian anggaran dan belanja daerah dalam penanganan covid-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani lebih memfokuskan pada sisi aspek ekonomi dan keuangan. Wabah covid-19 membuat perekonomian dunia menurun dan ini juga akan berpengaruh pada Indonesia baik disektor investasi, export dan import, Jum’at(17/4/2020).
“maka pada tahun 2020 ini, kita memperkirakan ekonomi Indonesia akan turun pada level 2,3 % ini adalah skenario berat yang sudah kita sampaikan pada sidang kabinet” jelas Sri Mulyani.
Para pimpinan daerah harus menyiapkan diri terhadap kemungkinan yang terjadi ini, pemburukan ekonomi dunia yang menyebabkan peningkatan kemiskinan dan pengangguran.
“kita mengestimasi kemiskinan akan meningkat 1,1 juta sampai dengan 3,7 juta, untuk pengangguran 2,9 juta hingga 5,2 juta tegantung kita berada di skenario berat atau sangat berat” jelasnya.
Dalam pelaksanaan transfer ke daerah, kementrian keuangan menggunakan baseline skenario berat artinya pertumbuhan ekonomi masih di level 2,3% kemiskinan naik 1,1 juta dan pengangguran naik 2,9 juta.
Pemerintah menanggapi situasi yang luarbiasa ini sudah mengeluarkan perpu No 1 Tahun 2020, untuk mampu merespose kondisi kesehatan, sosial dan ekonomi. Didalam perpu ini dan turunnya perpres No 54 anggaran kesehatan ditingkatkan hingga 75 triliun rupiah diperuntukan 132 rumah sakit rujukan pusat dan daerah, rumah sakit darurat dan dukungan SDMnya, pengadaan sapras dan pengadaan rapid test reagen, termasuk juga bantuan bagi BPJS terutama pekerja bukan penerima upah, tambahan insentif bagi dokter pusat dan derah selama 6 bulan serta tenaga medis lainnya, dan termasuk santunan kematian bagi tenaga kesehatan.













