KORDANEWS – Starlink merupakan proyek konstelasi satelit yang dikembangkan perusahaan transportasi antariksa SpaceX yang digawangi Elon Musk pada 2015. Proyek ini bertujuan untuk memberikan akses internet kepada seluruh masyarakat dunia.
Starlink terdiri dari ribuan satelit kecil yang dikirim secara massal ke orbit Bumi yang rendah. Satu satelit beratnya mencapai 260 kg. Satelit-satelit ini disematkan antena parabola.
Jarak antara satelit dengan Bumi yang menjadi fokus utama perusahaan. Hal ini membuat aktivitas yang membutuhkan latensi rendah seperti panggilan video, atau gaming menjadi sulit karena jarak yang terlampau tinggi. Sebab data harus melakukan perjalanan ke ruang angkasa dan kembali berulang kali.
Berangkat dari situ, ide dasar Starlink adalah menggunakan satelit pada orbit yang jauh lebih rendah untuk mengurangi semua jeda waktu itu. Ide yang bagus, tapi tetap ada kendala.
Rendahnya orbit satelit menyebabkan satu satelit hanya bisa menjangkau area yang jauh lebih kecil. Sehingga membutuhkan jumlah satelit yang lebih besar untuk menyediakan layanan ke seluruh penjuru Bumi.
Pengiriman satelit Starlink ke orbit Bumi dilakukan secara bertahap, sebab Falcon 9 hanya dapat menampung 60 satelit saja.
Setelah satelit berhasil menyentuh orbit, sekumpulan solar panel akan dikerahkan untuk menyalakan satelit seperti dilansir Android Authority, Kamis (9/7).
Ada empat antena yang merupakan bagian utama dari Starlink untuk mentransmisikan jaringan internet. Mereka disematkan laser yang bertugas untuk menghubungkan setiap satelit.
Setelah terhubung satu sama lain, satelit dan pendorong ion menggunakan gas kripton untuk memungkinkan mereka tinggal di orbit Bumi lebih lama.













