KORDANEWS – Ilmuwan China yang kabur ke Amerika Serikat, Li-Meng Yan menuduh virus corona berasal dari laboratorium militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok, bukan pasar basah Wuhan. Hal itu diungkap Li dalam wawancara dengan Lude Press pada Selasa (28/7).
Li yang merupakan virologi dan imunologi di School of Public Health, The University of Hong Kong (HKU) itu telah melarikan diri ke Amerika Serikat.
“Pada waktu itu, saya dengan jelas menilai bahwa virus itu berasal dari laboratorium militer Partai Komunis China. Pasar basah di Wuhan hanya digunakan sebagai umpan,” ujarnya seperti dikutip dari Taiwan News.
Dia mengaku sejak awal buka suara karena melihat dokter dan pasien yang tidak bersalah berjatuhan akibat terinfeksi Covid-19.
Sebagai dokter dan ilmuwan, dia mengatakan tidak dapat bersikap acuh tak acuh. Selama penelitiannya mengenai penularan virus dari manusia ke manusia, dia mengklaim melacak sumber wabah ke PLA.
Dia melaporkan temuan itu kepada atasannya, namun tidak ditanggapi serius.
“Saya tahu bahwa begitu saya berbicara, saya bisa menghilang kapan saja, sama seperti semua demonstran yang berani di Hong Kong. Saya bisa menghilang kapan saja. Bahkan nama saya tidak akan ada lagi,” ucapnya.
Dia juga menekankan bahwa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membeberkan informasi sebelum “menghilang”.
Wanita itu mengaku dibesarkan dan dididik di bawah Partai komunis China (PKC) dan tahu “hal-hal apa yang akan dilakukan pemerintah China” tapi dia tidak berani menebak “seberapa jauh (PKC) akan bertindak”.
Li berjanji akan terus mengatakan yang sebenarnya tentang PKC dan pandemi Covid-19, dengan harapan mempercepat pemahaman dunia luar tentang rezim.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada 10 Juli lalu, dia mengatakan mantan atasannya, Leo Poon ditugaskan untuk menyelidiki sekelompok kasus mirip SARS yang dilaporkan pada akhir Desember.
Pada awalnya Poon menyarankan melanjutkan penyelidikan, tapi kemudian memperingatkannya untuk “tetap diam dan berhati-hati” ketika dia memberikan lebih banyak bukti pada 16 Januari.
Salah satu rekan ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di China juga memberi tahu tentang kemungkinan penularan dari manusia ke manusia kepada Li pada 31 Desember, jauh sebelum Tiongkok atau WHO mengakuinya.
Kata dia wakil direktur WHO mengetahui temuannya tapi gagal mengambil tindakan apapun.
Li sendiri memutuskan meninggalkan negaranya karena tahu betul bagaimana pemerintah China memperlakukan pelapor untuk menyembunyikan epidemi.
Dia harus pergi untuk keselamatannya sendiri, melarikan diri dari Hong Kong menggunakan maskapai Cathay Pacific pada April untuk “menyampaikan pesan kebenaran Covid-19 kepada dunia”.
Berdasarkan eksperimennya pada sifat penyakit yang sangat menular, ia mengkritik pemerintah China atas lockdown paksa yang dikeluarkan di Wuhan.
Dia mengatakan mengunci seluruh warga di rumah untuk waktu yang lama daripada menguji dan mengisolasi individu justru akan memperburuk epidemi.













