KORDANEW – Dunia K-Pop kembali diguncang oleh drama internal yang melibatkan salah satu bintangnya. Mantan anggota ikonik 2NE1, Park Bom, secara tiba-tiba dan mengejutkan publik, mengumumkan melalui media sosialnya bahwa ia telah mengajukan gugatan terhadap pendiri agensi legendaris YG Entertainment, Yang Hyun Suk. Gugatan ini dilayangkan atas tuduhan serius berupa penipuan dan penggelapan gaji, namun hal yang paling menarik perhatian dan memicu kebingungan adalah nilai ganti rugi yang diklaim sangat besar dan dianggap “tidak masuk akal”.
Surat Tuntutan yang Menghebohkan
Pada sebuah unggahan yang kini telah dihapus, Park Bom membagikan foto surat pengaduan hukum yang ditujukan kepada Yang Hyun Suk. Dalam dokumen tersebut, ia menuding bahwa Yang Hyun Suk telah menahan pembayaran penghasilan dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa memberikan laporan keuangan atau akuntansi yang memadai. Tuduhan ini merujuk pada masa-masa karirnya di bawah naungan YG Entertainment, agensi yang membesarkan nama 2NE1.
Namun, inti dari kehebohan terletak pada jumlah uang yang ia tuntut. Laporan menyebutkan nilai ganti rugi mencapai angka yang sulit dipahami, yaitu sekitar S$700 nonilion. Angka ini jauh melampaui nilai pasar perusahaan raksasa sekalipun, bahkan lebih besar dari total kekayaan negara-negara di dunia. Nilai fantastis ini seketika membuat publik terbelah: sebagian melihatnya sebagai bukti betapa parahnya masalah keuangan yang dialami artis, sementara mayoritas besar menganggapnya sebagai indikasi adanya masalah kesehatan mental serius yang sedang dihadapi Park Bom.
Kekhawatiran Terkini Mengenai Kesehatan Mental
Reaksi publik cenderung mengarah pada keprihatinan mendalam. Mengingat riwayat Park Bom yang pernah vakum karena masalah kesehatan pribadi dan isu kesehatan mental yang sempat menghantuinya pasca skandal di masa lalu, unggahan surat gugatan dengan detail yang aneh tersebut segera memicu alarm.
Netizen Korea membanjiri kolom komentar dengan kekhawatiran, mendesak agar Park Bom mendapatkan penanganan medis yang tepat alih-alih terlibat dalam proses hukum yang mungkin memperburuk kondisinya. Komentar-komentar seperti, “Dia butuh perawatan,” dan “Seseorang yang dekat dengannya harus turun tangan,” menjadi sorotan, menunjukkan bahwa fokus publik bukan lagi pada kebenaran tuduhan finansial, melainkan pada kesejahteraan sang idola.













