KORDANEWS – Bayangkan sebuah dunia di mana Anda tidak lagi memerlukan aplikasi pihak ketiga yang rumit atau menyimpan “seed phrase” di atas kertas untuk bertransaksi aset digital. Bayangkan jika dompet kripto sudah tertanam secara alami di dalam iPhone atau perangkat Android Anda, semudah menggunakan Apple Pay atau Google Wallet.
Menurut para pakar industri dan analis finansial, masa depan ini bukan lagi sekadar angan-angan. Tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik di mana raksasa teknologi (Big Tech) seperti Google dan Apple secara resmi merilis native crypto wallet mereka sendiri.
Pergeseran Paradigma: Dari Musuh Menjadi Mitra
Selama bertahun-tahun, Apple dikenal sangat ketat—bahkan cenderung memusuhi—ekosistem kripto karena aturan biaya komisi 30% di App Store. Namun, angin perubahan mulai bertiup. Tekanan regulasi besar-besaran di Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat memaksa Apple untuk membuka ekosistem “taman tertutup” mereka.
Analis dari Dragonfly, Haseeb Qureshi, memprediksi bahwa pada tahun 2026, integrasi kripto akan menjadi langkah defensif sekaligus ofensif bagi Big Tech. Dengan semakin populernya stablecoin sebagai alat pembayaran global, Google dan Apple tidak ingin kehilangan kendali atas aliran transaksi finansial pengguna mereka.
Google: Menuju Ekonomi AI yang Otonom
Google berada di posisi terdepan dalam keterbukaan teknologi. Google Wallet telah berevolusi dari sekadar penyimpan kartu kredit menjadi gudang identitas digital, kunci mobil, hingga tiket pesawat. Pada tahun 2026, langkah logis berikutnya adalah integrasi blockchain.













