KORDANEWS – Dunia sepak bola Indonesia kembali dihebohkan dengan kabar besar di penghujung tahun 2025. PSSI dikabarkan telah mencapai kesepakatan prinsip dengan pelatih kenamaan asal Inggris, John Herdman, untuk menakhodai Skuad Garuda mulai awal tahun 2026. Sosok yang dikenal sebagai “arsitek transformasi” ini diharapkan mampu menjawab dahaga prestasi publik tanah air.
Langkah ini bukan sekadar pergantian kursi kepelatihan biasa. PSSI memberikan mandat besar kepada Herdman dengan target-target yang sangat spesifik dan ambisius untuk dua tahun ke depan.
Target Ambisius: Dominasi Regional dan Kejutan Benua
Berdasarkan informasi yang beredar, John Herdman tidak hanya diminta untuk mempertahankan tren positif Timnas, tetapi juga untuk melampaui standar yang ada. Ada dua target utama yang telah dicanangkan:
- Juara Piala AFF 2026: Setelah puluhan tahun hanya menjadi spesialis runner-up, Indonesia ditargetkan untuk akhirnya mengangkat trofi tertinggi di Asia Tenggara tersebut. Herdman diharapkan bisa mematahkan kutukan final dan membawa mentalitas juara ke Skuad Garuda.
- Delapan Besar Piala Asia 2027: Setelah sukses menembus babak 16 besar di edisi sebelumnya, target berikutnya adalah mencapai perempat final. Ini adalah target berani yang akan menempatkan Indonesia sejajar dengan raksasa-raksasa sepak bola Asia.
Untuk mencapai ini, Herdman dikabarkan akan memegang tanggung jawab ganda, yakni sebagai pelatih kepala Timnas Senior sekaligus Timnas U-23, demi memastikan kesinambungan taktik dan regenerasi pemain yang mulus.
Filosofi Sang “Pembangun Bangsa”
Mengapa John Herdman? Rekam jejaknya adalah jawaban paling kuat. Herdman memegang rekor unik sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang berhasil membawa tim nasional wanita dan pria dari negara yang sama ke ajang Piala Dunia.
Prestasinya yang paling fenomenal adalah saat menangani tim nasional Kanada. Ia berhasil membangkitkan Kanada dari tim yang “terlupakan” menjadi kekuatan dominan di zona CONCACAF, hingga akhirnya lolos ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun. Di bawah arahannya, Kanada melesat dari peringkat 72 ke peringkat 33 dunia. Kemampuannya dalam membangun sistem, analisis data yang mendalam, dan motivasi kepemimpinan inilah yang membuat PSSI terpikat.













