KORDANEWS – Bagi banyak wanita, siklus bulanan bukan hanya soal kram perut atau perubahan suasana hati. Ada satu tamu tak diundang yang sering kali datang lebih awal dan menetap lebih lama: sakit kepala yang menyiksa. Secara medis, kondisi ini dikenal sebagai migrain menstrual, sebuah fenomena kesehatan yang memengaruhi jutaan wanita namun sering kali dianggap sebagai “risiko alami” belaka.
Penyebab Utama: Orkestra Kimiawi yang Terganggu
Sakit kepala saat haid bukan terjadi karena stres atau kelelahan biasa, melainkan akibat fluktuasi hormon yang drastis. Pemeran utamanya adalah hormon estrogen. Sesaat sebelum periode menstruasi dimulai, kadar estrogen dalam tubuh wanita akan merosot tajam ke titik terendah.
Penurunan estrogen ini secara langsung memengaruhi kadar serotonin di otak. Serotonin adalah zat kimia yang mengatur ambang batas rasa sakit dan suasana hati. Ketika kadar serotonin ikut jatuh, saraf-saraf di otak menjadi jauh lebih sensitif dan pembuluh darah cenderung melebar. Reaksi inilah yang menciptakan sensasi berdenyut hebat yang biasanya menyerang satu sisi kepala.
Selain itu, tubuh melepaskan zat bernama prostaglandin untuk membantu rahim berkontraksi. Namun, jika jumlahnya berlebih dan masuk ke aliran darah, prostaglandin dapat memicu peradangan sistemik yang memperburuk rasa pening dan mual selama haid berlangsung.
Faktor Pemicu dan Risiko Tersembunyi
Meskipun hormon adalah pemicu utama, gaya hidup selama fase pramenstruasi (PMS) sering kali memperparah kondisi ini. Dehidrasi adalah faktor yang paling sering diabaikan. Saat kadar hormon berubah, tubuh cenderung mengalami retensi cairan di beberapa bagian, namun justru kekurangan cairan di aliran darah, yang berujung pada pusing.
Kurangnya asupan zat besi akibat perdarahan hebat (menorrhagia) juga bisa menjadi penyebab. Kondisi anemia ringan ini menyebabkan otak kekurangan oksigen, yang memanifestasikan diri dalam bentuk sakit kepala tumpul yang berlangsung sepanjang hari.













