KORDANEWS – Munculnya titik gelap atau tahi lalat baru pada permukaan kulit sering kali dianggap sebagai hal yang remeh. Namun, secara medis, kemunculan tahi lalat secara tiba-tiba di usia dewasa—atau yang dikenal sebagai acquired nevi—merupakan fenomena biologis kompleks yang melibatkan genetika, lingkungan, hingga kondisi sistem imun seseorang.
Meskipun sebagian besar tahi lalat baru bersifat jinak, para ahli dermatologi menekankan pentingnya memahami pemicu kemunculannya guna membedakan bintik pigmen biasa dengan tanda awal keganasan kulit seperti melanoma.
1. Paparan Radiasi Ultraviolet (UV): Pemicu Utama Mutasi Sel
Penyebab paling dominan dari kemunculan tahi lalat baru adalah akumulasi paparan sinar matahari. Radiasi UV bekerja dengan cara merusak DNA pada sel melanosit (sel penghasil warna kulit).
Ketika DNA rusak, sel-sel tersebut dapat tumbuh secara berkelompok dan tidak terkendali, membentuk titik pigmen baru. Dr. Adrian Lee, seorang spesialis kulit, menjelaskan bahwa tahi lalat yang muncul akibat sinar matahari sering kali merupakan cara kulit “mengingat” luka akibat terbakar matahari (sunburn) yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.
2. Fluktuasi Hormonal: Mengapa Ibu Hamil Lebih Rentan?
Hormon memainkan peran kunci dalam aktivitas melanosit. Lonjakan kadar estrogen dan progesteron—terutama selama masa kehamilan atau penggunaan alat kontrasepsi—dapat memicu munculnya tahi lalat baru atau menggelapkan tahi lalat yang sudah ada.
Fenomena ini sering kali bersifat sementara atau menetap tanpa risiko bahaya. Namun, perubahan mendadak pada ukuran tahi lalat saat hamil tetap memerlukan pemantauan ketat untuk memastikan bahwa perubahan tersebut murni dipicu oleh hormon, bukan oleh pertumbuhan sel abnormal.
3. Predisposisi Genetik: Warisan yang Tertunda
Jika orang tua atau anggota keluarga dekat memiliki banyak tahi lalat, besar kemungkinan Anda akan mengalami hal yang sama. Beberapa orang membawa variasi genetik yang membuat melanosit mereka lebih aktif merespons lingkungan.
Dalam dunia medis, kondisi ini terkadang dikaitkan dengan Familial Atypical Multiple Mole Melanoma (FAMMM), sebuah kondisi keturunan di mana seseorang secara alami memiliki lebih dari 50 tahi lalat dan terus bertambah seiring bertambahnya usia.













