KORDANEWS – Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin menginginkan hukuman bagi para pelaku yang telah merusak rumah ibadah umat
Katolik, Kapel Santo Zakaria di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rantau Alai,
Kabupaten Ogan Ilir hingga jera dan menjadi contoh bagi yang lain.
“Kita tunggu saja, nanti kan ketahuan. Tidak akan lama semua pasti akan
jelas, dan hukumannya tidak main-main” tegasnya.
Apalagi orang nomor satu di Sumsel mengatakan dirinya telah berkoordinasi bersama Kapolda Sumsel dan saat ini aparat telah mendalami perihal kejadian tersebut.
“Untuk itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mari kita sama-sama tetap jaga kondusifitas Sumsel bersama-sama agar hal ini tidak terjadi lagi,” imbau Alex.
Menurut Alex, sebenarnya di desa tersebut sangat kondusif. Hal ini ditandai dengan kehidupan warga yang rukun dan damai. Kapel itu sendiri sebenarnya sudah dibangun sejak tahun 2000 dan baru direnovasi tahun 2017 kemarin.
“Selama ini kita selalu membanggakan ikon kita zero konflik. Jadi mungkin ada yang mau coba-coba rusak itu. Tapi saya tidak mau menduga terlalu jauh, nanti apa motifnya siapa pelakunya akan terbukti. Pasti dapat itu, soalnya ini jadi prioritas Kapolda. Pelakunya sedang dikejar,” ujar Alex.
Agar kejadian ini tak terulang, Alex mengaku sudah menginstruksikan semua Bupati agar mengumpulkan semua camat dan meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing.
“Selain itu Bupati juga didorong untuk lebih aktif berkoordinasi dengan semua elemen masyarakat demi terjaganya kondusifitas,” ujarnya.
Tak lupa Alex mengingatkan hal ini tak perlu dibesar-besarkan, karena memang tidak menimbulkan gejolak berarti di kalangan masyarakat setempat.
Karena itu dia meminta hal ini tidak diperkeruh dengan pemberitaan yang
provokatif.
“Mari kita redam, karena ini memang kejadian kriminal biasa. Saya pikir ini
tidak akan berpengaruh pada Asian Games,” ucapnya.
Sementara itu Sekretaris FKUB Sumsel, Hendra Zainuddin mengungkapkan, bersama Kemenag dan FKUB Kabupaten OI, mereka sudah turun ke lapangan.
Dari hasil itu Hendra mengungkapkan kalau sebenarnya koordinasi antar lembaga di daerah itu sudah luar biasa bagus.
Baik di tingkat kelurahan bahkan Babinsa dan tokoh agama sudah berjalan sebagaimana mestinya.
“Ketika ada hal seperti ini semua cepat merapatkan barisan dan berkoordinasi. Bahu membahu menciptakan keamanan dan kerukunan,” ucapnya.
Dia juga memastikan hal ini tak ada kaitannya dengan konflik agama. Karena FKUB biasanya mengumpulkan instansi terkait untuk ikut serta merekomendasi rumah ibadah yang akan dibangun apakah sesuai atau tidak.
“Kami dari FKUB pada dasarnya sigap memediasi. Kami juga rutin melakukan koordinasi demia Provinsi Sumsel yang aman,” tambahnya. (Ab)
Editor: Janu













