KORDANEWS- Beberapa waktu lalu, Tana Toraja sempat viral karena aksi turis nakal. Sebenarnya, ada apa saja di sana?
Mumpung masih hangat pemberitaan beberapa wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja, saya pun mau ikut meramaikan. Namun bukan dalam arti yang negatif melainkan dari sudut pandang pelancong yang mengagumi keindahan alam dan keunikan budaya di Tana Toraja.
Beberapa waktu yang silam dalam kesempatan kunjungan ke Sulawesi Selatan, saya menyempatkan untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja dengan menggunakan bus. Untuk menghemat waktu dan biaya, saya menggunakan bus malam dari Makassar yang berangkat jam 21.00 WITA. Semula saya khawatir jumlah penumpang bus wanita hanya sedikit atau bahkan hanya saya seorang. Namun kekhawatiran saya itu tidak terbukti. Penumpang perempuan cukup banyak dan saya duduk bersebelahan dengan penumpang perempuan juga.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih delapan jam, akhirnya bus sampai di Rantepao. Jangan khawatir bagi para wisatawan yang berpergian sendiri, selain pilihan sewa motor atau mobil ada juga sewa ojek motor (motor dengan pengendaranya).
Setelah menawar sewa ojek motor dan mendapatkan harga yang disepakati, kepada pengendara motor yang hari itu juga merangkap sebagai pamandu wisata, saya memberitahukan tempat-tempat yang ingin saya kunjungi juga saya sampaikan jika ada, saya ingin datang ke acara Rambo Solo. Karena setahu saya acara Rambu Solo tidak setiap waktu diadakan.
Berkunjung ke Tana Toraja bagi saya pribadi seperti mengingatkan pada kematian karena beberapa objek wisata yang cukup terkenal di Tana Toraja adalah pemakaman bahkan acara adat Rambu Solo pun adalah ritual prosesi pemakaman.

Tempat pertama yang didatangi adalah Lo’ko’ Mata. Di tempat ini terdapat pemakaman berupa batu besar. Jenazah akan ditempatkan pada lubang –lubang yang dibuat pada batu besar tersebut. Di sekitar lubang dimana jenazah disimpan juga terdapat patung Tao Tao yang merupakan simbol orang yang dimakamkan di tempat tersebut. Tidak jau dari tempat pemakaman ini saya melihat kerbau bule yang biasanya dijadikan persembahan pada acara Rambu Solo. Semakin sedikit warna gelap pada kerbau tersebut akan semakin mahal harganya.
Perjalanan berlanjut ke Bori’ Parinding yang merupakan situs megalitikum. Selain batu-batu tinggi megalitikum di tempat ini juga terdapat pemakaman. Sedikit menuju ke atas akan terlihat pohon Tarra yang oleh masyarakat tana Toraja dijadikan tempat pemakaman jenazah bayi.
Sebetulnya saya tidak mengetahui Lo’ko’ Mata dan Bori’ Parinding namun pengendara ojek yang saya sewa menyempatkan mengantar saya ke dua tempat ini sebelum saya mengunjungi Batutumonga. Benar-benar pelayanan yang diberikan diatas yang saya harapkan!
Tujuan berikutnya adalah Batutumonga yang kata beberapa pelancong adalah desa diatas awan karena berada di dataran tinggi di kaki gunung Sesean dan saat mengarahkan pandangan kebawah terlihat hamparan hijaunya sawah berpadu dengan putihnya awan.













