Health

Sunat Juga Bisa Gagal, Butuh Revisi Alias ‘Sunat Ulang’

×

Sunat Juga Bisa Gagal, Butuh Revisi Alias ‘Sunat Ulang’

Share this article

KORDANEWS – ‘Sunat gagal’ menjadi mimpi buruk tiap anak yang melakukan tindakan sirkumsisi atau memotong kulit ujung penisnya (kulup) demi menjaga kesehatan. Kegagalan bisa ditandai dengan kulit kulup yang kembali tumbuh, hingga nyaris menutup kepala penis.

Dalam prinsip sirkumsisi, kulit kulup harus terpotong mulai dari ujung hingga lingkaran di kepala penis (korona). Kondisi yang disebut sunat gagal bisa disebabkan berbagai faktor, misal burried penis atau penis yang tenggelam. Penis menjadi terlihat kecil karena tertarik ke dalam akibat tubuh yang terlalu gemuk.

Dokter biasanya menyarankan pasien burried penis yang akan disunat mendapat bius total. Selanjutnya, dokter akan menyunat dan menerapkan teknik recovery supaya penis tidak kembali tenggelam. Hasil sunat tentunya memenuhi prinsip sirkumsisi untuk kesehatan pasien.

Dokter ahli urologi dari Rumah Sakit St. Carolus Dr dr JC Prihadi Sp U mengatakan, situasi tersebut bisa dihindari salah satunya dengan memilih fasilitas kesehatan yang tepat untuk sunat. Kerja sama pasien yang tetap tenang selama operasi juga membantu tenaga kesehatan menyelesaikan proses sunat dengan baik.

“Kita menyebutnya bukan gagal ya, tapi kulit yang terpotong kurang banyak sehingga tidak sesuai prinsip sirkumsisi,” kata dr Prihadi, dalam perbincangan dengan detikHealth.

Sementara itu, dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sunat, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS menjelaskan bahwa teknik memotong kulup pada anak bertubuh gemuk berbeda dari biasanya. Jika pada anak normal bisa menggunakan teknik tanpa dijahit, lain halnya dengan burried penis, kulupnya harus dipotong sesuai marker atau tanda yang diberikan oleh tenaga medis.

“Diguntingnya harus ngukur dulu kulitnya berapa tebal berapa panjang. Kita juga asumsikan kalau sudah besar ereksi bagaimana berapa senti sisa kulitnya. Nah dari situ kita bikin marker kemudian dipotong sesuai dengan marker itu kemudian dijahit. Yang biasa nggak pakai marker. Kalau ini harus dijahit,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *