Sumsel

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Universitas Bina Darma Gelar Pelatihan Kerajinan Latex

×

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Universitas Bina Darma Gelar Pelatihan Kerajinan Latex

Share this article

KORDANEWS — Komditi karet di Sumatera Selatan merupakan salah satu penghasil terbesar di Indonesia yang perkebunannya tersebar di beberapa Kabupaten dan Kota di Sumatera Selatan. Namun harga komoditi karet sendiri semakin menurun di Indonesia dari tahun 2018 sampai 2019, dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya yang sempat mencapai kejayaan di tahun 2010.

Hal ini disampaikan Ch Desi Kusmindari kepada KordaNews yang mengatakan “Karet di Sumatera Selatan merupakan karet yang dihasilkan untuk diproduksi menjadi bahan setengah jadi yang kemudian di kirim ke beberapa produsen untuk di olah menjadi bahan jadi. Intinya, produksi karet di Sumatera Selatan menjadi barang jadi masih sangat minim sekali, padahal apabila diolah dengan baik, karet dapat menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.” jelasnya.

Dikatakan Ch Desi Kusmindari, bersama dua rekannya, Ari Muzakir dan Poppy Indriani, di Sumatera Selatan sebenarnya ada wadah yang dapat membantu masyarakat dalam hal pelatihan dan pendampingan pengolahan hasil karet dari bahan awal yang disebut latex menjadi beberapa produk yang dapat bernilai yaitu Balitbangnovda (Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Daerah). Untuk disetiap Kabupaten dan Kota juga terdapat Balitbang. Sebagai potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Balitbangnovda Sumatera Selatan awalnya telah merintis Kawasan sentra industri latex yang berlokasi di Kampung Talang Kedondong Kecamatan Kebun Bunga Kota Palembang sejak tahun 2012. Barang yang dihasilkan berbagai macam jenis souvenir, seperti gantungan kunci, hiasan lemari es, bross, dan souvenir bagi instansi/industri lainnya.

“Namun sentra industri ini terhenti karena permintaan dan penjualan semakin menurun sehingga masyarakat kurang diuntungkan. Hal ini dikarenakan sulitnya bahan baku yang tidak sesuai dengan kriteria dalam produksi seperti latex yang dihasilkan di Perkebunan Karet di Sumatera Selatan kurang baik. Selain itu juga peralatan yang digunakan masih sangat tradisional dan harus didatangkan dari beberapa kota di pulau Jawa yang menyebabkan produksi sangat lambat begitupun wadah untuk proses penjualan yang tidak terekspos secara benar.” tambahnya.

Menurutnya, kendala yang dihadapi selama ini adalah desain dan kemampuan pengrajin yang terbatas dan tidak bisa menyesuaikan keinginan pasar, sistem pemasaran yang belum baik dan stabil, serta bahan baku yang belum terkendali kualitasnya, dimana hal ini sangat mempengaruhi biaya produksi bagi UMKM. Kendala tersebut membuat beberapa kelompok usaha dan pengrajin kecewa dan pesimis akan keberhasilan usaha yang ditekuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *