Sumsel

Peran Kemitraan Perlu Untuk Pengelolaan Lingkungan Sumsel

×

Peran Kemitraan Perlu Untuk Pengelolaan Lingkungan Sumsel

Share this article

KORDANEWS — Kemitraan Pengelolaan Lanskap Ekoregion (KOLEGA) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar diskusi nasional “South Sumatra High Level Stakeholder Dialogue (SSHLSD) di Hotel Aryaduta Palembang, kemarin.

 

 

 

Kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan inisiatif pengelolaan lingkungan hidup dan lanskap berkelanjutan yang sudah berjalan sejak tahun 2015 lalu di Sumsel.

 

 

 

Koordinator KOLEGA Sumsel, Najib Asmani mengatakan, Sumsel merupakan provinsi terdepan dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan lanskap berkelanjutan sejak 2015 lalu. Masukan dari stakeholder merupakan kunci untuk terus melanjutkan pengelolaan lingkungan berkelanjutan Sumsel.

 

 

 

“Kemitraan adalah kata kunci dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Isu lingkungan hidup dan pengentasan kemiskinan tidak bisa dijalankan secara parsial, namun perlu sebuah keterpaduan melalui pendekatan kemitraan para pihak,” ungkapnya.

 

 

 

Dijelaskannya, Sumsel telah menjad teladan bagi Indnesia dalam pembangunan berkelanjutan serta kemitraan pengelolaan lanskap yang telah dibangun selama ini. Hal ini membuktikan jika upaya pelestarian alam dan pengentasan kemiskinan bisa dijalankan secara terpadu dan kolaboratif.

 

 

 

Pada tahun 2018, KOLEGA Sumsel telah menyelenggarakan Festival Lanskap pertama di Indonesia, mengangkat Sumsel sebagai provinsi pelopor dalam pendekatan lanskap berkelanjutan. Satu prestasi penting adalah ketika Provinsi Sumsel dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan sidang ke 30 dari “The Man and Biosphere International Coordinating Council (MAB-ICC) UNESCO” pada bulan Juli 2018.

 

 

 

Pada siding tersebut Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) ditetapkan sebagai salah satu Cagar Biosfer Dunia, yang menghasilkan kesepakatan untuk pengembangan “ekoeduwisata” sebagai bentuk upaya pelestarian mangrove, burung migran dan keanekaragaman hayati lainnya, namun juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa di sekitar kawasan TNBS.

 

 

 

“Para mitra pembangunan telah diarahkan untuk mengembangkan berbagai upaya dalam pengelolaan gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

 

 

 

Mitra pembangunan bekerja erat dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) dan TRGD Provinsi untuk terus membangun fondasi pengelolaan gambut secara terpadu dan pencegahan karhutla, diantaranya adalah pengelolaan tata air terpadu dan mendorong peran kelompok-kelompok masyarakat peduli api di desa-desa gambut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *