KORDANEWS — Terlihat raut wajah yang tegas membuatnya Tjoa Kie Tjuan terlihat sangat berwibawa sebagai pemimpin pertama etnis Tionghoa di Palembang.
Ditambah lagi disaat menggunakan pakaian khas kerajaan berwarna hitam dan bermotif ukiran di setiap sisi tangan dan bawah pakaiannya. Ditambah topi khas pemimpin serta bersarung tangan putih.
Tjoa Kie Tjuan diangkat oleh Pemerintah Belanda menjadi kapten pertama pada tahun 1830. Itu berlanjut hingga keturunannya yakni Tjoa Ham Ling di tahun 1871.
Pada masa itu, Pemerintah Belanda berhasil menguasai Bumi Sriwijaya ini. Dimasa pemerintahan Belanda masyarakat Tionghoa pun diakui perkembangannya hingga akhirnya dipercaya untuk memimpin pemerintahan khususnya di wilayah Seberang Ulu Palembang.
Maka dari itu, peradaban etnis Tionghoa di Palembang bukan lagi hal yang asing. Mereka sudah hadir sejak lama pasca runtuhnya kerajaan Sriwijaya pada abab ke XI.
Masyarakat Tionghoa ini masuk untuk berdagang di daerah Seberang Ulu Palembang, tepatnya dipinggiran Sungai Musi hingga akhirnya menetap dan menikah dengan keturunan asli daerah Palembang.
“Tugas kapiten sendiri memimpin wilayah di Seberang Ulu Palembang untuk menjalankan pemerintahan Belanda di bagian Seberang Ulu,” kata Mulyadi yang merupakan keturunan Tjoa Ham Ling yang ke 14.
Dalam melakukan pemerintahannya, sang Kapiten memiliki ruangan khusus dengan dua jendela yang dapat langsung melihat kondisi perairan Sungai Musi. Sehingga, kapal yang masuk dari negara mana pun dapat dipantau langsung olehnya.













