KORDANEWS-Pada masa tanggap darurat ini, peran Jaring Pengaman Sosial sangat penting dalam menopang konsumsi masyarakat yang daya belinya harus dijaga, terutama kepada mereka yang terdampak ekonominya, misalnya para pekerja di sektor informal dan mereka yang harus berhenti bekerja atau dirumahkan.
Hal ini disampaikan Hari Widodo selaku Kepala BI Wilayah Provinsi Sumatera Selatan “Kedepan, pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2020 kami perkirakan akan turun lebih dalam karena dampak COVID-19 pada triwulan ini akan mempengaruhi perekonomian keseluruhan triwulan 2 dan masih akan berlangsung hingga triwulan 3, terutama karena menurunnya konsumsi masyarakat dan aktivitas industri sebagai dampak COVID-19 yang baru mulai terasa di bulan Maret 2020.” ungkapnya.
Dikatakannya, menurunnya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan berlanjut sejalan dengan masih berlangsungnya pembatasan sosial. Selain itu, penurunan juga terjadi pada Investasi dan Ekspor Luar Negeri. Namun demikian, meningkatnya konsumsi pemerintah melalui realokasi dan refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19 diperkirakan akan menahan penurunan laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan di Triwulan II 2020. Dari sisi Inflasi, pada bulan April 2020 Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,15% (mtm), setelah pada bulan Januari hingga Maret 2020 mengalami inflasi.
Menurutnya, deflasi disebabkan oleh penurunan harga komoditas cabai merah, daging ayam ras, dan beras. Penurunan harga cabai merah disebab kan oleh meningkatnya pasokan memasuki masa panen di daerah sentra. Sementara itu, turunnya harga daging ayam ras terjadi karena meningkatnya pasokan di tengah kondisi permintaan yang menurun seiring pembatasan aktivitas masyarakat. Permintaan ini tidak hanya datang dari kebutuhan rumah tangga tetapi juga dari industri yang terdampak oleh pembatasan aktivitas seperti perhotelan, catering dan restoran. Penurunan harga beras terjadi bersamaan dengan masuknya musim panen di sentra produksi padi antara lain di Kabupaten OKU Timur yang dimulai dari bulan Maret hingga bulan Juni.
Meskipun demikian, penurunan laju inflasi tertahan oleh kenaikan harga bawang merah dan gula pasir karena terbatasnya pasokan dan harga emas perhiasan yang sejalan dengan kenaikan harga emas global. Permasalahan ketersediaan pasokan gula pasir, masih terus diupayakan untuk dipenuhi dan ini menjadi permasalahan hampir di setiap daerah. Namun demikian, upaya-upaya untuk terus menambah stock gula pasir dan stabilisasi harga di Sumatera Selatan terus dilakukan oleh Pemerintah. Secara tahunan, inflasi April 2020 tercatat sebesar 2,48% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi regional Sumatera dan nasional yang masing-masing sebesar 1,56% dan 2,67% (yoy). Deflasi pada bulan ini sangat berbeda dengan pola historis inflasi yang biasanya naik pada bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri sebagai dampak musiman karena HBKN yang biasanya diwarnai dengan kenaikan permintaan komoditas pangan dan biaya transportasi/angkutan udara.













