“Kehilangan polisi bukan hanya kehilangan seseorang yang bekerja untuk kita, tetapi juga seperti kehilangan anggota keluarga, teman dan orang terkasih,” kata Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern.
Menurut seorang saksi, Elaine Taniela, mengatakan dia mendengar suara letusan senjata api ketika sedang berada di rumah. Dia mengatakan seorang temannya yang berada di jalan ketika peristiwa terjadi mengatakan melihat seorang polisi terkapar di jalan dengan tubuh gemetar.
Kejadian ini membuka luka aksi teror yang terjadi pada tahun lalu.
Pemerintah Selandia Baru memperketat aturan kepemilikan senjata api usai aksi teror penembakan di dua masjid saat Salat Jumat di Christchurch pada 2019 yang menewaskan 51 orang, termasuk seorang WNI. Pelakunya adalah seorang lelaki warga Australia, Brenton Harrison Tarrant, yang dilaporkan menjadi penganut ideologi supremasi kulit putih.
Tarrant kini mengakui perbuatannya setelah sebelumnya menyatakan tidak bersalah di hadapan pengadilan. Dia ditahan di penjara dengan tingkat pengamanan tinggi di Selandia Baru.(DBS)
Editor : John.W













