KORDANEWS-Pasar menjadi salah satu public area yang cenderung dihindari, sejak pandemi-covid 19 menghampiri Indonesia akhir bulan Februari 2020, mengingat selalu adanya kerumunan (crowd) di sana. Tidak sedikit masyarakat yang mulai berpikir ulang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari pasar di pasar tradisional, demi memastikan pelaksanaan protokol kesehatan serta memperkecil kemungkinan untuk terpapar virus corona. Terlebih lagi jika pemerintah di suatu daerah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ataupun protokol kesehatan ketat lain nya.
Hal tersebut tentu sangat mempengaruhi jumlah transaksi jual beli para pedagang yang ada di pasar. Omzet penjualan padagang pasar pun mengalami penurunan yang cukup signifikan selama masa pandemi.
Dalam masa penyesuaian ke arah kenormalan baru, masyarakat pun mulai mengubah kebiasaan dan cara berbelanja. Mereka yang selama ini berbelanja secara konvensional dengan langsung mendatangi pusat-pusat perdagangan, mulai membiasakan diri dengan berbelanja secara daring (online). Namun tentu tidak semua kalangan masyarakat di Indonesia bisa segera beradaptasi dengan kebiasaan baru tersebut. Tidak semua pedagang siap dan segera menyesuaikan dengan cara baru bertransaksi. Terlebih para pedagang pasar tradisional, yang selama ini mengelola langsung lapak dagangannya. Mulai dari menyiapkan barang, menunggui lapak, mengelola keuangan, dan sebagainya. Mereka tidak sempat melakukan inisiasi penyesuaian ke arah digitalisasi, yang kini menjadi syarat mutlak bagi sebuah perubahan ke arah penjualan online. Padahal dengan penjualan secara online, mereka akan mampu menjangkau lebih banyak ceruk pasar konsumen untuk tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan omzet penjualannya.
Di sinilah Bank BRI menyadari bahwa ada sesuatu gebrakan yang harus segera dilakukan untuk membantu para pedagang pasar ini. Di masa seperti inilah transformasi dan digitalisasi harus lebih cepat dilakukan.
Maka, Bank BRI yang notabene merupakan bank dengan portofolio UMKM lebih dari 80% hadir. Bank BRI turun ke pasar untuk mengedukasi para pedagang serta UMKM pasar untuk mulai mengenal dan melakukan transaksi jual beli secara online melalui apa yang disebut dengan pasar.id . Bank BRI tidak bergerak sendiri, tapi langsung bersinergi dengan pihak pengelola pasar dan pihak terkait lainnya untuk menyediakan pasar.id di pasar-pasar tradisonal yang ada. Sejak diperkenalkan kepada publik pada bulan Juni 2020 lalu, telah terdapat 232 pasar tradisional yang difasilitasi oleh Bank BRI di wilayah supervisi Kantor Wilayah BRI Palembang yang meliputi propinsi Sumatera Selatan, Jambi dan Bangka Belitung (Babel). Khusus untuk wilayah kota Palembang, sudah ada 36 pasar yang dapat menggunakan sistem online berbelanja dengan Pasar.id dari Bank BRI.
Hal tersebut disampaikan oleh Pemimpin Wilayah BRI Palembang Revi Rizal pada seremonia launching Pasar.id Bank BRI di Pasar Soak Bato 26 Ilir, Palembang.
“Melalui program sistem belanja online yang kami beri nama Pasar.id , kami memberikan kemudahan dan fasilitas bagi orang-orang yang biasa belanja di pasar sekaligus membantu para pedagang untuk bisa berjualan secara online di tengah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih melanda,” jelasnya. Jum’at (18/09)
Pasar.id dari Bank BRI diyakini akan menjadi alternatif pola bertransaski yang sangat solutif bagi kepentingan interaksi konsumen dengan pedagang pasar. Konsumen tidak perlu datang ke pasar dan bertatap muka langsung dengan penjual. Mereka cukup menunggu barang yang dibelinya diantar ke rumah oleh kurir/delivery. “Inilah salah satu kelebihannya. Bersama para pedagang, kami menyiapkan kurir untuk mengantar pesanan barang kepada pembeli. Semua menjadi satu lini pelayanan dari Pasar.id Bank BRI ini,” kata Revi Rizal, “Ditambah dengan pola pembayaran yang menggunakan sistem transfer, transaksi jual beli ini menjadi sangat nyaman, aman, akuntable, dan sangat mendukung gerakan cashless society atau gerakan masyarakat tanpa uang tunai yang sedang digalakkan oleh pemerintah.”













