Reflection dapat dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap pengalaman atau kesalahan masa lalu yang disertai dengan introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dimasa depan.
Dengan melakukan reflection remaja dapat menilai dirinya, baik dari sisi positif maupun negatif. Reflection juga bisa membantu remaja melakukan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari dengan mengamati dan mengevaluasi keputusan di waktu yang lalu, sehingga dapat mengembangkan diri dan mengambil keputusan yang bijaksana terkait kehidupan yang akan dijalani setelah kedua orangtua berpisah dan tidak tinggal bersama mereka lagi.
“Cara ketiga yang dapat dilakukan untuk mengurangi rumination adalah dengan cara memotivasi diri. Remaja yang mampu memotivasi diri diharapkan dapat mencapai tujuan dalam hidupnya, menguasai diri dalam situasi yang sulit dan tetap dapat berkreasi di masa-masa sulit hidupnya setelah perpisahan orang tua, “jelasnya.
Namun, menjadi termotivasi itu sulit, terutama ketika remaja berada dalam keadaan stres atau depresi setelah perpisahan kedua orangtuanya.
“Merasa buruk karena kehilangan motivasi dapat membuat masalah menjadi lebih buruk dan terus membuat remaja berpikiran negatif. Untuk mengatasinya remaja sebaiknya mencoba untuk mengidentifikasi pikiran negatif ini dan menghindarinya, “ungkapnya.
Mengganti pikiran negatif secara sadar dengan kata-kata positif diperkirakan akan dapat mengurangi ketakutan, kemarahan, kekhawatiran, atau kesedihan yang muncul akibat pemikiran negatif.
Misalnya dengan mengatakan pada diri sendiri secara berulang bahwa semua akan baik-baik saja, semua bisa diatasi, saya bisa tetap melanjutkan hidup meski kedua orangtua berpisah, Tuhan punya rencana terbaik untuk hidup saya, ini mungkin yang terbaik buat kedua orangtua saya dan kehidupan saya juga dan sebagainya.
“Ketika remaja merasa sedih, tidak termotivasi, ataupun marah, sebaiknya jangan memberi kesempatan untuk memikirkan perasaan itu, “jelasnya.
Sebaiknya remaja dapat melakukan beberapa hal positif untuk mengembalikan kehidupannya menjadi normal seperti sebelum kedua orangtua berpisah, misalnya bangun pagi dengan semangat, merapikan tempat tidur, mandi dan segera ganti pakaian, melakukan tindakan spontan, mengunjungi mal, toko buku, bioskop atau teman, memasak, menulis cerpen, melakukan hobi yang disukai, mendandani diri sendiri dan dapat juga melakukan lebih banyak aktivitas fisik, seperti berolahraga.
“Usaha-usaha diatas dapat dilakukan remaja dalam menghadapi situasi sulit dalam kehidupannya setelah perpisahan orangtua, sehingga kehidupan yang dijalani akan lebih baik dan lebih positif, ” tandasnya.













