Di pihak lain, tim Yudha-Bahar yang dihubungi belum bersedia memberikan keterangan.
Kasus ini membawa banyak pesan penting. Pertama, hal ini menyoroti betapa pentingnya edukasi tentang hak cipta dalam kampanye politik, terutama di tengah era digital, di mana karya seni lebih mudah diakses dan sering kali disalahgunakan.
Lagu atau karya seni tidak hanya sekadar produk yang bisa digunakan secara bebas, melainkan simbol identitas penciptanya dan harus dihormati.
Kedua, peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya profesionalisme dalam setiap langkah kampanye politik.
Menggunakan karya tanpa izin, khususnya karya yang bermuatan budaya, tak hanya melanggar hak cipta tetapi juga dapat merusak citra dan nilai yang dibangun penciptanya.
Fir Azwar berharap bahwa insiden ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghargai dan melindungi warisan budaya dengan lebih baik.
Kasus “Lenggang Zapin Palembang” mengajarkan bahwa komunikasi, transparansi, dan apresiasi adalah langkah-langkah esensial dalam menggunakan karya orang lain. Ini bukan hanya soal hukum, tetapi soal kehormatan terhadap karya yang lahir dari dedikasi dan cinta pada budaya.
Kedua, peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya profesionalisme dalam setiap langkah kampanye politik.
Menggunakan karya tanpa izin, khususnya karya yang bermuatan budaya, tak hanya melanggar hak cipta tetapi juga dapat merusak citra dan nilai yang dibangun penciptanya.
Fir Azwar berharap bahwa insiden ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghargai dan melindungi warisan budaya dengan lebih baik.
Kasus “Lenggang Zapin Palembang” mengajarkan bahwa komunikasi, transparansi, dan apresiasi adalah langkah-langkah esensial dalam menggunakan karya orang lain. Ini bukan hanya soal hukum, tetapi soal kehormatan terhadap karya yang lahir dari dedikasi dan cinta pada budaya.













