KORDANEWS – Polda Sumsel meringkus tiga orang komplotan perampok Komang Cs yang telah beraksi 21 kali di empat provinsi yang berbeda sejak sembilan tahun lalu. Mereka merupakan tiga yang paling dicari dari 18 orang komplotan tersebut.
Tiga tersangka yang dibekuk yakni Eko Riyadi (39), warga Jalan Tebar Serai, Kelurahan Padang Kapok, Kecamatan Kota Manak, Kabupaten Mana, Provinsi Bengkulu. Misgianto alias Belawong (31), warga Dusun IV Tritunggal, RT15/6, Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal, Kabupaten Banyuasin
Serta otak dari sindikat perampok ini yakni Gusti Komang Sujana (41), warga Desa Lebuk Seberuk, RT3/3, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI. Ketiganya ditangkap di tiga tempat yang berbeda.
Tersangka Eko ditangkap oleh Unit IV Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel di rumahnya, 30 Oktober pukul 14.00. Dari pemeriksaan terhadap Eko, polisi berhasil mendapatkan lokasi tersangka Belawong. Anggota pun menangkapnya di Kota Bangko, Kabupaten Jambi pada 1 November pukul 14.30.
Sementara otak dari komplotan perampok ini, Komang, ditangkap di kediamannya pada 4 November pukul 03.00. Ketiga tersangka sama-sama melawan dan berupaya melarikan diri saat hendak diringkus sehingga ketiganya dihadiahi timah panas oleh polisi.
Dari hasil merampok 21 lokasi di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi, setidaknya komplotan ini meraup hasil sedikitnya Rp8,5 miliar beserta hampir 10 kilogram emas. Sebanyak 12 TKP diantaranya dilakukan di Sumsel.
Tiga pelaku lain yakni Agus, Sugiarto, serta Keriting telah ditangkap beberapa waktu lalu. Saat ini, Polda Sumsel masih mengejar 12 komplotan Komang Cs yang masih buron, termasuk empat orang yang telah diketahui identitasnya yakni SP, WL, WG, dan SK.
Tersangka Komang mengaku, komplotannya memang berjumlah banyak. Namun sekali beraksi tidak seluruhnya ikut, namun hanya 5-8 orang. Dirinyalah yang paling sering ikut beraksi.
Sebelum beraksi, komplotannya selalu mengintai korban terlebih dahulu dan memang mengincar rumah-rumah yang menyimpan uang dan emas yang banyak. Setiap beraksi pun selalu membawa senjata api untuk menodong dan menakut-nakuti korbannya. Dua dari 21 korbannya meninggal dunia karena melakukan perlawanan saat mereka beraksi.













