Sementara itu, Maresti Wulan Sari Ibu Rumah Tangga (IRT) yang juga tinggal disana mengaku, bahwa mereka ingin adanya penanganan mengenai banjir. Sebab apabila banjir datang, untuk tidur saja mereka kesusahan. “Boro boro mau masak, dapur, kompor terendam air. Mau tidur, kasur terendam air, jadi terpaksa tidur diatas meja. Kami bertahan disini lantaran rata rata pemulung, jadi tak akan protes bila barang bekas yang kami kumpulkan, disimpan menumpuk di depan rumah sebelum dijual,” ungkapnya.
Dia berharap, agar saluran sungai diberi tembok pembatas supaya air tidak masuk ke pemukiman kala banjir. “Pemukiman sama tingginya dengan sungai, jadi ketika air sungai meluap, pasti akan masuk rumah. Mungkin kalau dibangun tembok, air bisa terhalang dan tidak membanjiri pemukiman,” imbuhnya.
editor : awan













